Renungan Harian

20 February 2014

Renungan Harian, 20 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan (Mrk 8:27-33)

Apakah kita pernah menderita seperti Yesus? Difitnah, diolok-olok, diludahi? Hadapi setiap bentuk penderitaan, apapun itu, dengan iman; sebab, ditegaskan oleh Rasul Petrus dan Barnabas bahwa “untuk masuk kedalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”. St. Teresia dari Lisieux pun menegaskan, “Untuk menjadi seorang kudus, orang harus banyak menderita!” Kita bukan berharap menjadi kudus, tetapi dengan menghayati penderitaan sebagai bagian dari iman, maka kita bisa mendapatkan kebahagiaan Kerajaan Allah.

Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. (Mzm 34:7)

Bacaan Lengkap hari ini :

27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?”
28  Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.”
29  Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!”
30  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia.
31  Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
32  Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
33  Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

19 February 2014

Renungan Harian, 19 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak, kamu  menipu diri sendiri. (Yak 1:19-27)

Ada orang yang memburu segala macam ceramah, seminar, pendalaman iman serta pendalaman alkitab. Ia hafal banyak ayat. Tapi hidupnya menjadi beban bagi keluarga dan lingkungannya. Ia suka mengeritik dan menimbulkan perpecahan di mana-mana. Itu namanya menipu diri. Mendengar dan menerima sabda yang benar mau tidak mau membawa orang pada perubahan. Pandangannya berubah, tingkah lakunya membaik. Yang pasti, kasih-nya bertumbuh dan menjadi nyata. Tuhan tidak menilai kita menurut banyaknya pengetahuan, tetapi menurut besarnya kasih.

TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? (Mzm 15:1)

Bacaan Lengkap hari ini:

19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
20  sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
21  Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
22  Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
23  Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
24  Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
25  Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
26  Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
27  Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

18 February 2014

Renungan Harian, 18 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” (Mrk 8:14-21)

Ragi adalah bahan untuk membuat sesuatu dengan cara fermentasi. Sedikit ragi akan mempengaruhi benda yang diberi dan berubah dengan cepat.  Ragi Farisi adalah pengaruh kemunafikan sedangkan ragi Herodes adalah pengaruh keduniawian.  Hikmat yang dari atas menuntun kita pada pengalaman iman yang meneguhkan, hati yang tulus ikhlas dan kehidupan yang lebih jujur. Sehingga kita dapat terhindar dari pengaruh ragi Farisi dan ragi Herodes yang dapat merubah iman kita.

Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, (Mzm 94:12)

Bacaan Lengkap hari ini :

14  Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.
15  Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.
16  Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.”
17  Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?
18  Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,
19  pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.”
20  “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.”
21  Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

17 February 2014

Renungan Harian, 17 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Yesus mengeluh lalu menjawab, “Apa sebab orang-orang zaman ini minta Aku membuat keajaiban? Tidak! Aku tidak akan memberikan tanda semacam itu kepada mereka!” (Mrk 8:11-13)

Kadar iman manusia tidak selalu sama. Untuk dapat beriman, ada yang butuh banyak tanda, ada yang sedikit, ada yang tidak butuh apa-apa. Bagi banyak orang, Tuhan telah menganugerahkan banyak tanda melalui manusia itu sendiri dan peristiwa-peristiwa di dalam kehidupannya. Maka, orang juga tidak boleh menggantungkan imannya pada tanda-tanda ajaib dan peristiwa lahiriah yang sensasional semata. Mari kita percaya tanpa harus melihat.

Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku. (Mzm 119:77)

Bacaan Lengkap hari ini :

11  Beberapa orang Farisi datang kepada Yesus, dan mulai berdebat dengan Dia untuk menjebak-Nya. Mereka minta Yesus membuat keajaiban sebagai tanda bahwa Ia datang dari Allah.†
12  Yesus mengeluh lalu menjawab, “Apa sebab orang-orang zaman ini minta Aku membuat keajaiban? Tidak! Aku tidak akan memberikan tanda semacam itu kepada mereka!”
13  Lalu Yesus meninggalkan mereka, dan masuk ke dalam perahu; kemudian berangkat ke seberang danau itu.

16 February 2014

Renungan Harian, 16 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:17-37)
Paus Yohanes XXIII mengatakan bahwa bukan Injil yang berubah, melainkan Gereja lah yang mulai mampu untuk memahami tanda tanda zaman. Pernyataan ini adalah rangkuman dari Konsili Vatikan II. Semangat pembaharuan iman. Kita patut bersyukur Tuhan membarui semangat beriman orang Yahudi. Tetapi pernyataan itu juga ditujukan kepada kita semua. Orang Kristiani sejati harus menjadi orang yang bersemangat pembaharuan. Merubah pola pikir dan sikap dalam beriman dijaman yang penuh tantangan ini.

Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. (Mzm 119:33)

Bacaan Lengkap hari ini:

17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20  Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
22  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
23  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
25  Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
26  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29  Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30  Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31  Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32  Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34  Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
35  maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
36  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun.
37  Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

15 February 2014

Renungan Harian, 15 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.” (Mrk 8:1-10)

Sudah sering perikop tentang Yesus memberi makan kepada ribuan orang, tetapi tetap saja menjadi bahan pemikiran yang menarik. Kali ini Kita melihat dari seberapa keinginan kita untuk memahami situasi sesama yang menderita, bukan berarti kita meremehkan peran hati. Perasaan yang peka bagaikan pintu yang sedia terbuka untuk mencintai sesama. Tuhan memberi kita hati agar kita punya spontanitas untuk menaruh belas kasih. Kiranya belas kasih Yesus yang keluar dari hati-Nya yang peka, akan memberi kebijaksanaan pada kita untuk meneladaninya.

Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu, (Mzm 106:4)

Bacaan Lengkap hari ini :

1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:
2  “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
3  Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”
4  Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?”
5  Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.”
6  Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
7  Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
8  Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.
9  Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

14 February 2014

Renungan Harian, 14 Februari 2014 – Peringatan Wajib Santo Sirilius, Pertapa dan Metodius, Uskup

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. (Mrk 7:31-37)

Pesan Yesus untuk tidak menceritakan kepada siapapun juga, artinya sekalipun sudah fasih berbicara, janganlah banyak omong, apalagi bergunjing tanpa fakta. Manusia belajar bicara selama 2 tahun hidupnya, tetapi belajar mendengar selama puluhan tahun. St. Sirilus dan St. Metodius adalah dua bersaudara yang demi cintanya kepada Yesus telah memakai telinga dan lidahnya untuk mengabarkan Injil pada bangsa Slavia. Kita juga akan nyaman bilamana dapat memakai lidah kita untuk bicara yang perlu meski dialam bebas bicara seperti saat ini.

Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu (Mzm 81:9)

Bacaan Lengkap hari ini :

31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
32  Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
33  Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
34  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah!
35  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
36  Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
37  Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

13 February 2014

Renungan Harian, 13 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. (Mrk 7:24-30)

Betapa direndahkannya si wanita oleh Yesus, dia disamakan dengan anjing. Kekuatan, niat, kemantapan dan harapan akan kesembuhan anaknya telah mendorong keberaniannya untuk melangkah, bahkan membantah ucapan Yesus yang menusuk hati. Akhirnya ia mendapat kelegaan dan bersuka cita karena anaknya sembuh. Kita semua punya beban masalah, beranikah kita mohon bantuan Yesus? Memang kadang terasa berat dan sulit, tetapi kita tetap harus berusaha datang kepada Yesus, agar Dia mendengar keluh kesah dan menghargai niat luhur kita.

Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu, (Mzm 106:4)

Bacaan Lengkap hari ini :

24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.
25  Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.
26  Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27  Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
28  Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
29  Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
30  Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

12 February 2014

Renungan Harian, 12 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat (Mrk 7:14-23)

Agar mampu menangkap apa yang baik dalam diri kita, hati yang jernih, Roh tinggal dalam hati dan membimbing kita, kita perlu meluangkan waktu untuk hati dan pikiran kita. Berpa banyak waktu yang kita gunakan untuk mendengar bisikan Roh Kudus melalui bacaan Injil, doa dan mengikuti perayaan Gerejani? Adakah waktu untuk semua itu? Yesus mengajak kita untuk memperdalam iman kita dengan mencari lebih dalam pengetahuan tentang Dia.

Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; (Mzm 37:30)

Bacaan Lengkap hari ini :

14  Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
15  Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”
16  (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)
17  Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.
18  Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,
19  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
20  Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
21  sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
22  perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
23  Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

11 February 2014

Renungan Harian, 11 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! (Mrk 7:1-13)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dan bahkan tidak sadar bahwa kita sama dengan orang Farisi dan ahli taurat. Setiap hari Minggu ke Gereja, namun dirumah bertengkar dengan istri, suami, anak dan tetangga. Tidak memperhatikan kesejahteraan pegawai demi kepentingan pribadi; dn banyak kejahatan tersembunyi yang diselubungi dengan kesalehan. Yesus telah mengingatkan kita hari ini untuk tidak mempertahankan kesalehan palsu, melainkan memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Ada ajaran, nasehat, serta teladan Yesus untuk membungkam kemunafikan. Beranikah kita?

Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau (Mzm 84:5)

Bacaan lengkap hari ini :

1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
2  Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
3  Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
4  dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
5  Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”
6  Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
8  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
9  Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
10  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.
11  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban  —  yaitu persembahan kepada Allah  — ,
12  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.
13  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress