Renungan Harian

5 December 2009

Katekismus Singkat – Pasal 18: Tujuh Sakramen

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 18: Tujuh Sakramen

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:25-34)

1. Apakah yang paling berharga dalam hidup ini?
Yaitu hal-hal yang menambah dan memelihara kita dalam rahmat Allah.
“Melalui Kuasa-Nya Dia hadir dalam sakramen-sakramen, sehingga ketika seorang membaptis sesungguhnya Kristus sendirilah yang membaptis.” (Konsili Vatikan II, Liturgi pasal 7).

2. Bagaimana rahmat Allah memelihara dan bertumbuh dalam diri kita?
Melalui tindakan simbolis yang khusus dari Kristus melalui Gereja-Nya yang dikenal sebagai sakramen.
“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” (Mat 13:44)

3. Apakah yang dimaksud dengan sakramen?
Suatu tanda eksternal yang diberikan oleh Yesus Kristus untuk memberi rahmat. Menyangkut 7 sakramen, tanda ini berupa tindakan yang melibatkan perayaan di mana Kristus hadir dan kuasa-Nya sungguh bekerja bagi kita secara rohani seperti diindikasikan oleh aksi tersebut.
“Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10)

4. Apa yang kita dimaksud dengan “tanda eksternal” ?
Sesuatu yang dapat kamu lihat, dengar, rasakan, yang memberitahukan kepadamu atau menunjukkan kepadamu sesuatu yang tidak dapat kamu lihat.

5. Apa contoh-contoh tanda eksternal dari sakramen-sakramen?
Contohnya, tanda eksternal dari sakramen pembaptisan adalah perayaan pembasuhan, dan ini melambangkan pencucian dari dosa dan kebangkitan rohani bagi hidup baru dalam rahmat.

6. Bagaimana sakramen-sakramen berbeda dengan tanda-tanda eksternal lainnya?
Selain menunjukkan atau menandakan bahwa kita menerima rahmat, sakramen-sakramen sungguh memberikan rahmat bagi kita, dan bukan hanya tanda dari rahmat melainkan juga penyebab rahmat.
“Bersama dengan Gereja, karena itu, Pendiri yang Kudus hadir …. dalam sakramen-sakramen, dan kedalamnya kuasa yang menjadikan sakramen sebagai instrumen siap-pakai bagi pengkudusan” (Paus Pius XII, Liturgi Suci, par.20)

7. Sebutkan tujuh sakramen yang diberikan Yesus.
Pembaptisan: membebaskan kita dari noda dosa asal, memberikan kita kelahiran dalam hidup rahmati.
Krisma: memberikan penguatan rohani, pengalaman pribadi kita dalam Pentekosta.
Ekaristi: memberikan kita tubuh dan darah Yesus Kristus sebagai santapan spiritual.
Tobat: memberikan pengampunan dosa-dosa yang dilakukan setelah dibaptis.
Pengurapan orang sakit: membawa kesembuhan pada saat sakit keras.
Imamat: menjadikan seseorang pria sebagai imam Kristus.
Perkawinan: memberikan rahmat yang diperlukan bagi hidup perkawinan Kristiani.

8. Apakah sakramen selalu memberikan rahmat?
Ya, jika kamu menerimanya dengan layak.

9. Berikan contoh penerimaan sakramen secara tidak layak.
Menerima sakramen ekaristi, perkawinan, imamat ketika masih berada dalam dosa berat. Tidak menyesal dengan tulus atas dosa-dosa ataupun tidak menceritakan secara lengkap pada waktu menerima sakramen tobat.

10. Apakah berdosa kalau menerima sakramen secara tidak layak?
Ya, ini dosa sakrilegi dan merupakan dosa berat.

11. Kenapa ada tujuh sakramen?
Setiap sakramen memberikan bantuannya yang khusus yang disebut rahmat sakramental. Tujuh melambangkan kesempurnaan dalam Kitab Suci.

12. Berapa kali kamu dapat menerima sakramen Baptis, Krisma dan Imamat?
Hanya satu kali saja karena efek dari sakramen ini bersifat permanen, dan meninggalkan semacam tanda spiritual pada diri seseorang. Sekali dosa asal dihapuskan lewat pembaptisan, maka hilang selamanya; sekali seorang imam diordinasi, dia selamanya adalah imam. Tanda spiritual itu tidak dapat dihapus, bahkan setelah kematian.

13. Berapa kali kamu dapat menerima sakramen Ekaristi dan Tobat?
Setiap hari kalau kamu mau. Tidak ada batasan bagi sakramen tobat. Aturan umum menerima Komuni sekali dalam sehari, tetapi ada beberapa pengecualian. Sementara menghormati aturan menyangkut berapa sering boleh menerima Komuni, patut disebutkan bahwa kamu diajak menerima Komuni ketika kamu berpartisipasi dalam Misa.

14. Berapa kali seseorang dapat menerima sakramen Perkawinan?
Satu kali saja, kecuali pasangan kamu wafat.

15. Berapa sering seseorang boleh menerima sakramen Pengurapan?
Ketika kamu mulai terancam bahaya sakit keras, kecelakaan ataupun usia lanjut. Sakramen ini boleh diulang jika setelah keadaan membaik, orang yang bersangkutan kembali sakit, atau, dalam kasus penyakit yang sama, kondisinya memburuk.

16. Siapakah yang bisa memberikan pelayanan sakramen?
a. Seorang imam dapat membaptis, memberikan Komuni, Tobat, dan Pengurapan. Siapapun dapat membaptis seorang lainnya dalam keadaan bahaya maut. Seorang awam yang bertindak sebagai pelayan Ekaristi juga dapat membagikan Komuni.
b. Seorang uskup memberikan sakramen Krisma dan Imamat. Dalam kondisi tertentu, seorang imam dapat memberikan sakramen Krisma.
c. Dalam sakramen Perkawinan, pelayan sakramen yang sesungguhnya adalah justru sang pengantin pria dan wanita. Meskipun diharuskan hadir oleh hukum Gereja, seorang imam semata-mata sebagai saksi resmi.

Poin-poin Praktis

  1. Semakin baik kondisi anda dalam menerima sakramen, yakni, semakin besar iman dan cinta dan semakin menyesal atas dosa-dosamu, semakin kaya pula efek dari sakramen-sakramen dalam hidupmu.
  2. Setelah Yesus memberikan sakramen-sakramen kepada Gereja, Gereja meliputi masing-masing sakramen dengan perayaan yang indah sehingga kita dapat mengatakan bahwa setiap sakramen adalah suatu perayaan. Perayaan yang kudus ini menjadi bagian dari ibadah resmi Gereja yang disebut liturgi.
  3. Setiap perayaan liturgi adalah suatu aksi Kristus sebagai imam dan tubuh-Nya yaitu Gereja, suatu tindakan yang kudus yang tak ternilai. Itulah sebabnya mengapa sakramen-sakramen begitu kuasa dan perlu bagi hidup Kristiani seutuhnya.
Sumber : gerejakatolik.org

30 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 17: Kunci Persatuan Gereja

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 17: Kunci Persatuan Gereja

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:15-19)

Apakah yang Yesus lakukan untuk memastikan Gereja-Nya akan selalu bersatu?
Dia mengirim Roh Kudus untuk berdiam dalam Tubuh-Nya yang adalah Gereja, mempersatukan semua umat satu dengan yang lain dan dengan diriNya sendiri, Kepala dari Tubuh Kristus.
Dia telah memberikan kita Roh-Nya yang, merupakan kesatuan dan mahluk yang sama dalam kepala dan para anggota-anggotanya, menghidupkan, mempersatukan, dan menggerakan seluruh Tubuh. {Konsili Vatikan II, paragraf 7)
Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisa, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. (Efesus 4:3-6)

Siapakah instrumen terutama pengajaran dan karya yang mempersatukan dari Roh Kudus di dalam Gereja?
Sri Paus, yang adalah Uskup Roma dan Vikarius Kristus di dunia. Dia adalah kepala yang terlihat dari seluruh Gereja Katolik.
“Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya.” (Yehezkiel 34:23)

Siapakah Paus yang pertama?
Rasul Petrus, yang diangkat menjadi Paus oleh Yesus Kristus sendiri.

Kapankah Yesus membuat Santo Petrus sebagai Paus pertama?
Sesaat sebelum Dia naik ke sorga, Yesus memberikan otoritas penuh kepada Santo Petrus atas seluruh Gereja-Nya. Beberapa bulan sebelumnya, Dia telah menjanjikan hal ini.
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga…” (Matius 16:18-19)
Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku….Gembalakanlah domba-domba-Ku…Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-17)

Apakah otoritas Petrus berakhir setelah dia wafat?
Tidak. Kuasa itu diteruskan kepada Santo Linus, dan setelah dia wafat, diteruskan kepada yang berikutnya, demikian secara terus-menerus selama 2000 tahun.
Untuk menemukan Gereja Kristus yang sejati di dunia ini, engkau harus menemukan Petrus atau penggantinya yang sah. “Dimana Petrus berada, disanalah Gereja berada.” (Santo Ambrosius, abad ke-4)

Apakah Yesus menginginkan kita untuk mematuhi Sri Paus dalam hal agama?
Ya, karena kepatuhan dan kesetiaan kepada Sri Paus adalah salah satu syarat utama dari Tuhan Yesus demi persatuan dalam Gereja-Nya.
“Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Matius 16:19)
“Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita..” (Yohanes 17:21)

Apakah Sri Paus bisa salah ketika mengajarkan ajaran agama?
Tidak ketika beliau mengajar secara resmi (ex cathedra) sebagai kepala Gereja. Dia mendapat rahmat perlindungan khusus yang diberikan Allah supaya terhindar dari kesalahan pengajaran.

Poin-poin Praktis

• Roh Kudus tinggal dalam anggota-anggota Gereja dan membantu mereka dengan rahmat-Nya sesuai dengan tugas-tugas mereka. Ini cara-Nya membimbing Gereja dan memberi hidup dan persatuan. “Seperti Kristus adalah Kepala Gereja, demikian juga Roh Kudus menjiwai Gereja. (Paus Leo XIII)

• Sri Paus tinggal di kota Vatikan, suatu wilayah yang independen di dalam lingkup wilayah kota Roma, Italia. Dia adalah Uskup Roma. Sejak jaman Santo Petrus, Uskup Roma selalu menjabat sebagai Paus. Ketika seorang Paus wafat, para Kardinal memilih penggantinya.

Sumber : gerejakatolik.org

25 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 16: Gereja

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 16: Gereja

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:15-18)

Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberkan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:18-20)

Apakah Allah bermaksud supaya hanya Alkitab saja yang menjadi petunjuk keselamatan?
Tidak. karena banyak hal dalam Alkitab dalam disalah pahami.
Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri. (2 Petrus 1:20)
Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. (2 Petrus 3:16)

Apa yang Yesus lakukan untuk memastikan supaya ajaran-ajaran-Nya tidak akan pernah disalah mengerti?
Dia mendirikan sebuah Gereja.
“..jemaat Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.(1 Timotius 3:15)

Kapankah Yesus mendirikan Gereja-Nya?
Nyaris 2000 tahun yang lalu.

Ada berapa banyak Gereja yang Yesus dirikan?
Hanya satu.
“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)
“mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yoh 10:16)

Berapa lama Yesus ingin Gereja-Nya bertahan?
Sampai akhir dunia.
“Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman. (Matius 28:20)

Dapatkah kita menemukan dan mengenali Gereja-Nya pada jaman modern ini?
Ya, inilah Gereja yang memiliki suksesi dari para Rasul dalam sejarahnya dan otoritasnya; Ini adalah Gereja yang universal dan kudus dan bersatu. Gereja tidak dapat mengajarkan kesalahan dan tidak dapat dihancurkan.
“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:20)

Apakah hanya ada satu Gereja yang memiliki syarat-syarat ini?
Ya, hanya Gereja Katolik.
“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Lukas 10:16)

Mengapa hubungan langsung dengan para Rasul itu begitu penting?
Karena kepada para Rasul-lah Yesus memberikan kuasa-Nya untuk membuat peraturan dan mengajar.
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. (Yoh 20:21)
Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:18-20)

Mengapa Gereja Yesus disebut “Katolik”?
Karena Gereja-Nya adalah bagi semua orang dari segala bangsa dan sepanjang masa dan mengajarkan segala doktrin-doktrin dari Yesus. Katolik artinya universal.

Kapankah nama “Katolik” pertama kali digunakan oleh Gereja Yesus?
Pada tahun 110 Masehi oleh Santo Ignatius dari Antiokia, yang menulis: “Dimana ada Yesus Kristus, disanalah ada Gereja Katolik.” (Ad Smyr. 8:2)
“Gereja disebut dengan sebutan Katolik oleh semua musuh-musuhnya, juga oleh anak-anaknya. Para kaum bidaah dan skismatik tidak dapat memanggil Gereja dengan sebutan lain selain Katolik, karena mereka tidak akan dimengerti kecuali jika mereka menggunakan nama yang mana Gereja dikenal oleh seluruh dunia.” (Santo Agustinus, abad ke-4)

Apakah Gereja Katolik tersebar di seluruh dunia?
Ya, anggotanya berjumlah 1.045.000.000 (sensus akhir 1999) yang terdiri dari selama macam ras dan suku bangsa dari segenap penjuru dunia. Pertumbuhan yang luar biasa dari Gereja, meskipun banyak halangan-halangan besar dan penindasan yang kejam, adalah suatu tanda yang pasti bahwa inilah Gereja Yesus Kristus.

Mengapa kita mengatakan bahwa Gereja Katolik itu kudus?
a.) Pendirinya, Yesus Kristus adalah kudus.
b.) Gereja mengajarkan doktrin-doktrin yang kudus.
c.) Gereja memberikan kepada anggota-anggotanya segala hal yang perlu untuk hidup kudus.
d.) beribu-ribu anggotanya dari segala lapisan masyarakat dari segala masa telah menjadi orang-orang kudus.

Apakah yang dimaksud dengan kesatuan dari Gereja Katolik?
Persatuan berarti semua umat Katolik di seluruh dunia:
a.) percaya pada doktrin-dotrin yang sama
b.) patuh pada peraturan-peraturan yang sama
c.) semua dipersatukan dibawah otoritas Sri Paus.
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” (Yaoh 17:20-21)

Mengapa Gereja Katolik tidak akan pernah mengajarkan hal-hal yang salah?
Alkitab menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus. Jika Gereja dapat mengajarkan kesalahan maka bisa diasumsikan bahwa Yesus sendiri juga mengajarkan kesalahan. Maka Allah mencegah hal ini terjadi dengan rahmatNya yang khusus.

Dapatkah kita mengatakan bahwa ketika Gereja mengajar doktrin-doktrin iman dan moral secara resmi, adalah sama seperti Kristus sendiri yang mengajar?
Ya, karena:
a.) Sesungguhnya Gereja adalah rupa Kristus sendiri. Santo Paulus menyebut Gereja sebagai “Kristus” (1 Korintus 12:12). Yesus sendiri mengindentifikasi Gereja-Nya sebagai “Aku” (Kisah 9:4)
b.) Yesus pernah berkata bahwa dengan mendengarkan Gereja-Nya maka kita mendengarkan Dia.
“Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Lukas 10:16)

Karunia khusus apakah yang Yesus berikan kepada Gereja-Nya untuk menjaminnya dari kesalahan?
Dia mengirim Roh Kudus, Pribadi Ketiga dari Trinitas Mahakudus, untuk berdiam dalam Gereja dan para anggota-anggotanya dan untuk membimbing Gereja pada seluruh kebenaran.
Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Korintus 3:16)
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” (Yohanes 16:13)

Mengapa Gereja Katolik tidak akan pernah musnah?
Karena Yesus berjanji bahwa “alam maut tidak akan menguasainya.” (Matius 16:18)
“Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya.” (Daniel 2:44)

Apakah ada suatu kewajiban moral untuk menjadi anggota Gereja Katolik?
Ya, semacam suatu sakramen atau tanda persatuan yang intim dengan Allah dan sebagai instrumen yang didirikan oleh Yesus untuk mempersatukan kita semua dengan-Nya sebagai Juru Selamat kita.

Poin-poin Praktis

• Gereja Katolik menerima anggota-anggota dari gereja-gereja Kristen lainnya dengan hormat dan kasih sebagai saudara-saudari seiman. Kita percaya bahwa semua yang percaya pada Yesus Kristus dan telah dibaptis secara sebagaimana mestinya, sesungguhnya telah dibawa kedalam persekutuan dengan Gereja Katolik meskipun tidak secara seutuhnya.

• Akan tetapi para saudara-saudari kita yang terpisah… tidak dikaruniai dengan persatuan yang dikehendaki oleh Yesus Kristus bagi semua orang yang telah dilahirkan kembali olehNya dan dipersatukan dalam satu tubuh dan hidup yang baru .. Karena hanya melalui Gereja Katolik milik Yesus lah, yang adalah segenap jalan keselamatan, jalan keselamatan yang seutuhnya bisa didapatkan. Kita percaya bahwa Tuhan Yesus hanya mempercayakan kepada para Rasul dan penerusnya yang mana Petrus sebagai pemimpinnya, semua berkat-berkat Perjanjian Baru, untuk membangun di dunia satu Tubuh Kristus yang mana semua orang yang telah menjadi bagian umat Allah dengan satu atau lain cara, dipersatukan secara sepenuhnya. (Konsili Vatikan II dalam hal Ekumenisme)

Sumber : gerejakatolik.org

20 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 15: Yesus Kristus, Allah Sejati Manusia Sejati

Filed under: Uncategorized — Tags: , , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 15: Yesus Kristus, Allah Sejati Manusia Sejati

Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: “Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?” Jawab Yesus: “Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?” Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati. (Markus 14:61-64)

Siapakah Yesus Kristus itu?
Yesus Kristus adalah Putera Allah, Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus, Allah sejati Manusia sejati.
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. (Gal 4:4-5)

Apakah Yesus Kristus sungguh-sungguh Allah?
Ya, Dia setara dengan Allah Bapa dan setara dengan Allah Roh Kudus.
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air adan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasini, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:16-17)
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Mat 28:19)

Apakah Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Allah?
Ya, Dia mengatakan demikian kepada para Rasul-rasul-Nya dan orang-orang dan ketika dibawah sumpah di hadapan para pemimpin agama.
“Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30)
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:15-16)

Bagaimana Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Allah?
Terutama melalui mukjijat-mukjijat yang dilakukanNya.
“Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” (Yoh 10:37-38)

Apakah yang dimaksud dengan suatu mukjijat?
Secara umum, suatu mukjijat adalah suatu kejadian luar biasa yang bertentangan atau melebihi hukum-hukum alam dan tidak dapat dijelaskan kecuali melalui kuasa Allah.
“Bagi mereka yang percaya pada Allah, tiada penjelasan yang diperlukan. Bagi mereka yang tidak percaya pada Allah, tiada penjelasan yang mungkin.” (Franz Werfel dalam film “Nyanyian Bernadette)

Apakah ilmu pengetahuan bisa menjelaskan mukjijat-mukjijat di masa depan?
Tidak akan, karena hanya melalui kuasa Allah orang buta bisa disembuhkan seketika atau orang mati kembali hidup.
Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa. (Yoh 9:32-33)

Bagaimana mukjijat-mukjijat bisa membuktikan kebenaran suatu pernyataan?
Suatu mukjijat hanya bisa terjadi atas kuasa Allah, dan Allah tidak akan pernah melakukan suatu mukjijat demi suatu kebohongan.
“…segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekaarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. (Yoh 5:36-37)

Apakah contoh-contoh mukjijat yang dilakukan oleh Yesus?
Dia menyembuhkan enam orang buta, sebelas orang sakit kusta, dua orang lumpuh, seorang bisu-tuli, membangkitkan tiga orang dari kematian, mengusir setan-setan dari banyak orang, merubah air menjadi anggur, meredakan badai, berjalan diatas air, dua kali memberi makan ribuan orang hanya dengan beberapa roti dan ikan. Segala alam raya tunduk atas-Nya.
Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:30-31)

Manakah mukjijat Yesus yang terbesar?
Kebangkitan-Nya dari kematian, seperti telah dinubuatkan oleh-Nya.
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 1:3)

Bagaimana Yesus membuktikan bahwa Ia adalah Allah dengan cara-cara lainnya?
Dengan kekudusan hidup-Nya, dengan kesempurnaan ajaran-ajaran-Nya, dengan nubuat-nubuat-Nya, dan dengan memenuhi banyak nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama.

Apakah yang dimaksud dengan nubuat?
Ramalan yang pasti tentang kejadian di masa depan yang tidak dapat diketahui secara alamiah tetapi hanya melalui kuasa Allah.

Apakah nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama digenapi oleh Yesus?
Ya. Beberapa diantaranya menyangkut asal-usulnya, kebangsaannya, sukunya, sifat keallahan-Nya, waktu dan tempat kelahirannya, keperawanan ibunda-Nya, pengungsian-Nya ke Mesir, penghianatan terhadap-Nya, dan praktis segala detil-detil seputar peristiwa sengsara dan wafat-Nya: penderitaan, penyesahan, olok-olok, penyaliban, penguburan dan kebangkitan.

Apakah contoh nubuat-nubuat yang disebutkan oleh Yesus?
Yang berikut ini sudah terpenuhi: yang menyangkut peristiwa sengsara-Nya, wafat, kebangkitan, penyangkalan oleh Petrus, penghianatan oleh Yudas, kedatangan Roh Kudus, penindasan terhadap para pengikut-Nya, dan penghancuran Bait Allah dan Yerusalem dan penginjilan ke seluruh penjuru dunia.

Apa nilai dari nubuat-nubuat ini?
Seperti juga mukjijat-mukjijat, nubuat-nubuat ini membuktikan bahwa Yesus berkata sebenarnya ketika Dia menyatakan bahwa Dia adalah Allah.
“pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku.” (Yoh 10:25)

Apakah Yesus sungguh-sungguh seorang manusia?
Ya, karena Dia memiliki tubuh badani dan roh.

Apakah Yesus seorang manusia yang fana?
Tidak, karena Dia adalah seorang Manusia Ilahi, Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus.
Yesus Kristus memiliki dua kodrat, kodrat manusia dan kodrat Allah, akan tetapi Dia tetap adalah satu Pribadi.

Apakah Yesus Kristus adalah Allah dan juga manusia?
Ya. Dia adalah Allah sejak awal mula tetapi menjadi manusia sekitar 2000 tahun yang lalu.
Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan. (Kol 2:9)

Mengapa Allah mau menjadi manusia?
Untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya dan untuk kembali membuka pintu-pintu surga.
Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa. (1 Tim 1:15)

Bagaimana Yesus menyelamatkan umat manusia?
Dengan mempersembahkan wafat-Nya di kayu salib sebagai kurban yang menebus dosa-dosa kita.
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus…(1 Pet 1:18-19)

Apakah anda akan diselamatkan secara otomatis melalui kematian Yesus?
Tidak, karena wafat-Nya adalah untuk memungkinkan anda untuk diselamatkan.
Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. (Fil 2:12)

Apakah yang perlu supaya kita bisa diselamatkan?
Anda harus masuk pada kontak spiritual dengan wafat Kristus yang menyelamatkan, melalui iman dan pembaptisan dan kesetiaan sebagai anggota Gereja-Nya, dengan mengasihi Allah dan sesama yang dibuktikan lewat kepatuhan pada perintah-perintah-Nya, lewat sakramen-sakramen terutama Sakramen Mahakudus, melalui doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik dan bertekun hingga saat terakhir, yaitu menjaga persahabatan dengan Allah dan tetap dalam rahmat hingga saat ajal anda.
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (Mat 7:21)

Sumber : gerejakatolik.org

15 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 14: Yesus Kristus, Juru Selamat Kita

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 14: Yesus Kristus, Juru Selamat Kita

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yoh 3:16-17)

Apakah Allah meninggalkan umat manusia setelah dosa Adam?
Tidak, Dia menjanjikan untuk mengirimkan seorang juru selamat ke dalam dunia dan untuk membuka kembali pintu surga.
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15)

Siapakah juru selamat bagi seluruh umat manusia tersebut?
Yesus Kristus, yang lewat kematiannya di kayu salib, telah menebus kita dari dosa-dosa kita.
“…engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Mat 1:21)

Siapakah Yesus Kristus itu?
Putera Allah, Pribadi Kedua dalam Tritunggal Mahakudus, Allah sejati dan manusia sejati.
“Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:34)

Siapakah ibunda Yesus?
Maria dari Nazaret, Santa Perawan Maria.
“Kata malaikat itu kepadanya: ‘Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” (Luk 1:30-31)

Apakah Yesus memiliki seorang manusia sebagai ayahnya?
Tidak, karena Maria mengandung Yesus secara mukjijat melalui kuasa Allah.
Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang prempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel.” (Yes 7:14)

Jika demikian, siapakah Santo Yusuf itu?
Dia adalah suami dari Santa Perawan Maria dan bapa angkat dari puteranya, Yesus.
…malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Mat 1:20)

Apakah Maria memiliki anak lain selain Yesus?
Tidak. Dia dan Yusuf hidup seperti layaknya kakak beradik, meskipun mereka menikah dengan sah.
…malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, nama perawan itu Maria…kata malaikat itu kepadanya…..”Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus”…kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:26-34)

Kapan dan dimanakah Yesus dilahirkan?
Dia dilahirkan nyaris 2000 tahun yang lalu di Betlehem, sebuah kota kecil dekat Yerusalem di Israel.

Dimanakah Yesus menghabiskan sebagian besar masa hidupnya?
Di kota Nazaret sampai Dia berumur sekitar 30 tahun.

Apakah yang Yesus lakukan selama tiga tahun terakhir masa hidupnya?
Dia mewartakan Injil, melakukan banyak mukjijat dan mendirikan Gereja-Nya.
Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadah dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. (Mat 4:23)

Bagaimana Yesus dihukum mati?
Salah satu dari rasul-rasulnya, Yudas Iskariot, menyerahkan Yesus ke tangan musuh-musuh-Nya yang mendesak gubernur Romawi, Pontius Pilatus untuk menghukum mati Yesus, seperti telah diramalkan sebelumnya oleh-Nya.
Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Mat 16:21)

Apakah penderitaan-penderitaan Yesus yang terutama?
Penderitaan di taman Getsemani, peluh darah, penderaan yang kejam, pemakaian mahkota duri, wafatnya di kayu salib, kesengsaran mental dan spiritual-Nya.
Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yes 53:5)

Bagaimana wafatnya Yesus?
Dia dipakukan ke kayu salib di atas sebuah bukit yang disebut Kalvari, dekat di luar kota Yerusalm, dan tiga jam kemudian dia wafat.
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (1 Pet 2:24)

Pada hari apa Yesus wafat?
Pada hari Jumat Agung.

Ketika Yesus wafat, kemanakah rohNya pergi?
Ke tempat penantian untuk mewartakan kepada orang-orang disana bahwa pintu surga akan segera terbuka.
Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara… (1 Pet 3:18-19)

Pada hari apa Yesus bangkit dari kematian?
Pada hari Minggu Paskah, tiga hari setelah wafat-Nya, seperti telah diberitahukan-Nya sebelumnya.
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikurburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus. (1 Kor 15:3-6)

Berapa lama Yesus tinggal di dunia setelah Kebangkitan-Nya?
Selama empat puluh hari, untuk membuktikan bahwa dia sungguh telah bangkit dan untuk menggenapi pekerjaan-Nya dalam membimbing Rasul-rasul-Nya dan mendirikan Gereja-Nya.
Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tnda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 1:3)

Kapankah Yesus naik ke surga?
Empat puluh hari setelah Kebangkitan-Nya, yaitu pada hari raya Yesus Naik ke Surga, yang dirayakan pada hari Kamis.
Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. (Mrk 16:19)

Siapakah yang naik ke surga bersama-sama Yesus?
Arwah-arwah yang telah berada di tempat penantian.
Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” (Ef 4:8)

Apakah Yesus akan datang kembali?
Ya, pada Hari Penghakiman, untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati.
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Mat 16:27)

Apa yang dilakukan oleh para Rasul setelah Yesus naik ke surga?
Mereka kembali ke Yerusalem dan menunggu kedatangan Roh Kudus.
Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku (Yoh 15:26)

Kapankah Roh Kudus turun atas para Rasul?
Pada hari Minggu Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga.
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba -tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hidnggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kis 2:1-4)

Ringkasan

Kisah tentang hidup Yesus tercantum dalam empat Kitab Injil, yaitu empat buku pertama dalam Perjanjian Baru, yang masing-masing ditulis menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Akan tetapi, hanya peristiwa-peristiwa utama tentang hidup Yesus yang tertulis dalam Injil.

Para saudara-saudara Yesus yang disebutkan di Alkitab bukanlah anak-anak Maria ibu Yesus, tetapi kerabat-kerabat-Nya. Kata “saudara” yang digunakan oleh orang Yahudi dimaksudkan untuk menunjuk pada sepupu/kerabat, karena dalam bahasa Ibrani tidak ada kata khusus bagi sepupu. (Lihat Im 10:4, 1 Taw 23:22, Kej 12:5, Kej 14:14)

Dari penderitaan Yesus yang besar, kita bisa berusaha memahami betapa besar kasih Allah bagi manusia, juga betapa jahatnya dosa itu dan kesabaran dalam penderitaan. Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1 Pet 2:20-21). Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lk 9:23)

Oleh karena itu jadikanlah sasaranmu yang utama untuk bermeditasi tentang hidup Yesus Kristus. Pengajaran Kristus melebihi segala ajaran-ajaran orang-orang kudus… Tetapi seseorang yang ingin memahami kata-kata Kristus sepenuhnya, harus belajar untuk menyesuaikan gaya hidupnya dengan Kristus. (Thomas A. Kempis – The Imitation of Christ).

Sumber : gerejakatolik.org

10 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 13: Dosa Asal

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 13: Dosa Asal

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa…..Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. (Roma 5:12,19)

Baca juga tiga pasal pertama Kitab Kejadian.

Apakah yang dimaksud dengan Dosa Asal?
Yaitu dosa yang dilakukan oleh Adam, bapa dari segala umat manusia.

Siapakah Adam dan Hawa itu?
Pria dan wanita pertama, darimana semua manusia di dunia ini diturunkan.

Bagaimana dosa Adam mempengaruhi seluruh umat manusia?
Karena dosa Adam, setiap manusia diciptakan tanpa rahmat, karena dia adalah bapa dari segenap umat manusia.
“Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa” (Roma 5:19)

Apa akibat lainnya dari dosa Adam?
Pintu-pintu surga tertutup; penyakit, penderitaan dan kematian datang ke dunia; pikiran manusia dikuasai oleh kegelapan dan dia menjadi lemah.
“yang ditimbulkan oleh hatinya adalah jahat…” (Kej 8:21)

Apakah surga masih tertutup bagi umat manusia?
Tidak, karena wafat Kristus di kayu salib, Allah membuka kembali surga dan membuat rahmat tersedia bagi manusia.
“Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Kor 15:22)

Apakah yang terjadi dengan orang-orang saleh yang meninggal sebelum Kristus lahir di dunia?
Mereka pergi ke suatu tempat bahagia alami, suatu tempat peristirahatan dimana mereka tetap tingggal hingga Yesus naik ke surga.
“Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” (Luk 16:22)

Bagaimana caranya kita bebas dari dosa asal dan mendapatkan rahmat Allah?
Pembaptisan menghapuskan dosa asal dan memberi rahmat kepada jiwa kita.
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5)

Adakah manusia yang dihindarkan dari dosa asal?
Ada, yaitu Santa Perawan Maria, yang diciptakan dengan rahmat. Ini yang disebut Yang Dikandung Tanpa Noda.
“Salam, engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Lukas 1:28)

Bahan Renungan

Melihat bagaimana Tuhan menghukum Adam atas dosanya, kita dapat merenungkan betapa buruknya dosa itu di mata Allah. Jika Adam tidak jatuh dalam dosa, maka tidak akan ada penyakit, penderitaan ataupun kematian di dunia dan Yesus tidak perlu wafat di kayu salib.

Setiap orang dilahirkan dalam dosa. Ini maksudnya adalah setiap orang mewarisi sifat-sifat manusiawi yang lemah, terpisah dari rahmat yang dulu meliputinya sebelum Adam jatuh dalam dosa, dan berada dalam kuasa kematian. (Baca tulisan Paus Paulus VI, Kredo Umat Allah, paragraf 16)

Sumber : gerejakatolik.org

5 November 2009

Katekismus Singkat – Pasal 12: Api Penyucian

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 12: Api Penyucian

Apakah yang dimaksud dengan Api Penyucian?
Suatu keadaan atau kondisi hukuman sementara setelah kematian. Sebagai kontrasnya, neraka adalah keadaan atau kondisi hukuman abadi. Ini merujuk pada pemurnian, penyucian. Api Penyucian adalah “tempat” dimana jiwa-jiwa dibersihkan dari akibat-akibat dosa.

Bagaimana kita tahu bahwa Api Penyucian itu ada?
Alkitab, Tradisi, dan ajaran serta praktek Gereja Katolik, dan bahkan akal sehat sekalipun, membuktikan adanya Api Penyucian

Bagaimana akal sehat bisa menunjukkan keberadaan Api Penyucian?
Hanya orang-orang yang menanggung dosa maut yang masuk ke neraka. Di lain pihak, tak seorangpun bisa masuk ke surga meski hanya dengan dosa yang terkecil sekalipun. Pasti ada tempat penebusan dan pemurnian bagi dosa-dosa ringan dan kekurangan-kekurangan kita lainnya.

Siapa yang masuk ke Api Penyucian?
Mereka yang telah memelihara karunia rahmat tetapi:
a. meninggal dengan masih memiliki dosa-dosa ringan yang belum dimaafkan.
b. meninggal tanpa melakukan penitensi yang mencukupi untuk membayar hutang hukuman sementara yang diakibatkan oleh dosa-dosa mereka di masa lalu.

Apakah yang dimaksud dengan: “hukuman sementara sebagai akibat dosa” ?
Meskipun Allah mengampuni dosa-dosamu, Dia tetap menuntut penitensi atau hukuman dalam hidup ini atau hidup yang berikutnya.

Apakah ada penderitaan di Api Penyucian bagi mereka yang masuk kesana?
Ya, selain disebabkan karena untuk sementara tertunda dari persatuan dengan Allah di surga, mereka yang di api penyucian juga harus menderita sengsara proses pemurnian.

Berapa lama seseorang harus menderita di Api Penyucian?
Tergantung dari jumlah dan besar dosa-dosa mereka yang harus ditebus.

Setelah dilepaskan dari Api Penyucian, kemanakah kita?
Ke surga untuk berada bersama-sama dengan Allah dalam sukacita sempurna yang abadi.

Bagaimana kamu bisa menolong jiwa-jiwa di Api Penyucian?
Kamu bisa memperpendek penderitaan mereka dengan merayakan Misa Kudus bagi mereka, berdoa bagi mereka dan melakukan perbuatan-perbuatan amal bagi mereka.

Apakah Alkitab mengajarkan kita untuk berdoa bagi orang-orang yang sudah meninggal?
Ya, kita mengetahui bahwa Yudas Makabeus mengirim 12000 keping perak ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban bagi dosa-dosa mereka yang sudah meninggal. (2 Makabe 12:43)

Bagaimana kamu bisa terhindar dari Api Penyucian?
Dengan berusaha untuk menghindari segala dosa-dosa, bahkan yang terkecil sekalipun, dan dengan melakukan penitensi bagi dosa-dosa yang telah dimaafkan.

Bahan Renungan

Hari Raya seluruh jiwa adalah hari yang disediakan oleh Gereja bagi doa-doa dan Misa-Misa khusus bagi jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian. Hari ini dirayakan setiap tanggal 2 November.

Mereka yang berada di Api Penyucian tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Kita harus membantu mereka dengan doa-doa kita dan pengurbanan kita. Yang kita tahu, mereka pada gilirannya juga bisa dan dapat berdoa bagi kita.

Sumber : gerejakatolik.org

30 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 11: Neraka

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 11: Neraka

Apakah yang dimaksud dengan neraka?
Suatu “tempat” dan keadaan di kehidupan yang berikut dimana jiwa-jiwa yang malang menderita untuk selamanya bersama-sama dengan para iblis.

Bagaimana kamu tahu bahwa neraka itu sungguh-sungguh ada?
Alkitab dan Tradisi seringkali menyinggung tentang hukuman yang kekal di neraka

Siapa yang akan masuk neraka?
Mereka yang meninggal dengan menanggung dosa maut

Apakah ada seseorang yang bisa keluar dari neraka?
Tidak ada. Neraka itu kekal, dan barangsiapa masuk ke sana akan tetap tinggal disana untuk selama-lamanya.

Penderitaan macam apakah yang ada di neraka?
Terpisah dengan Allah, sengsara api, penyesalan, ditemani oleh mereka yang dikutuk oleh Allah

Apakah yang dimaksud dengan sengsara perpisahan dengan Allah?
Perpisahan abadi dengan Allah, sumber segala kasih dan kebahagiaan; ini adalah duka dan sengsara terbesar di neraka.

Apakah sungguh-sungguh ada api di neraka?
Ya. Yesus seringkali bicara tenrang “api yang tidak pernah padam” di neraka dan mengatakan bahwa jiwa-jiwa yang terkutut akan “disaluti dengan api” (Markus 9:43) yang adalah “api abadi” (Matius 25:41)

Apa bedanya api di neraka dengan api yang ada di dunia?
Api neraka membakar tanpa memusnahkan dan menyiksa baik tubuh dan jiwa.

Apakah sengsara penyesalan?
Yaitu derita penyesalan abadi karena pemikiran bahwa meski Allah memberikan begitu banyak kesempatan dan bantuan untuk menyelamatkan jiwamu, kamu tidak mendapat bagian di surga karena kesalahanmu sendiri

Apakah sengsara persahabatan dengan iblis?
Derita persekutuan abadi dengan iblis dan orang-orang yang paling jahat yang pernah hidup di dunia, suatu kumpulan kebencian; neraka ialah tempat dimana tidak ada kasih.

Apakah sengsara neraka sama bagi mereka semua?
Mereka semua yang berada di neraka akan merasa terhukum dengan adil, tetapi tingkat penderitaan akan berbeda-beda sesuai dengan dosa dan rasa bersalah masing-masing.

Bahan Renungan

Coba sering-sering renungkan hukuman neraka dan kemungkinan kamu masuk ke sana. Berdoalah setiap hari supaya kamu tidak meninggal dengan menanggung dosa maut. Ucapkanlah doa tobat setiap malam.

Ada sementara orang yang menolak untuk percaya pada sabda Tuhan menyangkut hukuman yang adil bagi para pendosa. Orang-orang ini beranggapan bahwa Tuhan pasti akan berbelas kasih terhadap mereka terlepas dari dosa-dosa yang mereka perbuat. Sesungguhnya orang-orang ini menyelewengkan makna yang sesungguhnya dari kerahiman Tuhan. Tuhan menuntut penyesalan yang tulus dan pertobatan kita dan selama kita masih hidup di dunia masih belum terlambat untuk mendapat kerahiman Tuhan.

Meskipun kamu hidup secara baik-baik dan memiliki harapan yang rendah hati untuk terhindar dari neraka, adalah suatu hal yang baik untuk sering bermeditasi menyangkut hal ini. Kamu bisa menjadi misionaris yang siap sedia untuk bekerja dan berdoa dan berkurban untuk menyelamatkan orang lain supaya tidak masuk ke neraka.

Sumber : gerejakatolik.org

25 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 10: Dosa Ringan dan Dosa Maut

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 10: Dosa ringan dan dosa maut

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Percobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa, dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yakobus 1:13-15)

Apakah dosa itu?
Dosa adalah pikiran, perkataan, keinginan, dan perbuatan atau sikap acuh yang dilarang oleh hukum Allah.

Kapan kamu bersalah atas suatu dosa?
Kamu bersalah jika:
a. kamu menyadari bahwa kamu melanggar perintah Allah, dan
b. kamu dengan atas kemauan sendiri melakukannya.

Ada berapa jenis dosa?
Dua jenis dosa pribadi – dosa maut dan dosa ringan. Lihat pasal 13 mengenai Dosa Asal.

Apakah dosa maut itu?
Suatu dosa besar, pelanggaran yang serius terhadap hukum Allah. Sebagai contohnya: perzinahan, mencuri sesuatu yang sangat mahal, bermabuk-mabukan.

Apa akibat dosa maut terhadap dirimu?
Dosa maut membunuh hidup rahmati dalam dirimu.
Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. (Roma 6:21)

Apa yang akan terjadi padamu jika kamu meninggal dengan dosa maut?
Kamu akan masuk ke neraka untuk selama-lamanya.
“mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.” (Wahyu 21:8)

Apakah segala dosa maut bisa dimaafkan?
Ya, jika kamu sungguh-sungguh menyesalinya dan melakukan segala hal yang perlu untuk dimaafkan.
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Apakah dosa ringan itu?
Pelanggaran yang kurang serius terhadap hukum Allah, suatu pelanggaran yang tidak memutuskan persahabatan dengan Allah. Contohnya: sikap tidak sabar, kemarahan, mencuri sesuatu yang kecil nilainya.

Apa akibat dosa ringan terhadap dirimu?
Dosa ringan tidak mengurangi ataupun menghapuskan rahmat dalam dirimu, tetapi dosa ringan bisa mengurangi semangat kasihmu kepada Allah dan membawa kita pada posisi yang lebih buruk dalam perjuangan untuk menghindari dosa-dosa maut.

Apa yang akan terjadi pada dirimu jika kamu meninggal dengan dosa ringan?
Sebelum masuk ke Surga, kamu harus menjalani Api Penyucian.

Apakah sejumlah besar dosa ringan bisa menjadi suatu dosa maut?
Tidak.

Jika kamu melakukan sesuatu kesalahan, tetapi tidak tahu bahwa hal itu salah, apakah kamu berdosa?
Tidak, jika keacuhan kamu ataupun kelupaan kamu bukan karena kesalahan kamu sendiri.

Apakah kamu berdosa jika kamu bermaksud melakukan suatu hal yang buruk meskipun sesungguhnya kamu tidak melakukannya?
Ya, karena maksud untuk melanggar perintah Allah itu sendiri sudah merupakan suatu dosa. Contohnya, kamu bermaksud untuk merampok bank tetapi takut terhadap petugas keamanan.

Apa yang semestinya kamu lakukan kalau ragu-ragu apakah sesuatu hal itu dosa atau apakah sesuatu hal itu adalah dosa yang serius?
Kamu harus dengan jujur berusaha untuk memastikan hal itu sebelum kamu melakukannya; Kalau kamu dengan sengaja berbuat dalam keraguan seperti itu, tetap saja kamu bersalah karena ceroboh dan melanggar perintah Allah.

Apakah godaan itu?
Godaan adalah daya tarik untuk berbuat dosa.

Dapatkah kamu selalu mengalahkan godaan?
Ya, karena godaan mengundang kamu tetapi tidak memaksa kehendak bebasmu; selain itu, Allah selalu siap sedia menolong kamu dalam perjuangan itu.
“Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatasnmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Korintus 10:13)

Apa yang mesti kamu lakukan kalau kamu tergoda?
Pertama minta kepada Allah untuk menolong kamu, dan lalu menyibukkan diri melakukan hal yang lain.
“dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang Jahat.” (Matius 6:13)

Bagaimana kamu dapat menghindari godaan-godaan?
Hindarilah orang-orang, tempat-tempat, dan hal-hal yang dapat dengan mudah menjerumuskan kamu kedalam dosa dan mintalah rahmat kepada Allah.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)

Apakah kadangkala kita menolak bantuan rahmat Allah?
Sayangnya, benar demikian, karena kita memiliki kehendak bebas, dan Allah dalam memberikan pertolongan-Nya tidak memaksa kita untuk menanggapi atau menerimanya.
“Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (2 Korintus 6:1)

Sumber : gerejakatolik.org

20 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 9: Surga

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 9: Surga

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. (1 Yohanes 3:1-3)

Apakah Surga itu?
Suatu “tempat” dan keadaan bahagia yang sempurna bersama Allaah dalam hidup yang selanjutnya.
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Korintus 2:9)

Siapakah yang akan masuk ke surga?
Hanya mereka yang memiliki rahmat dalam jiwa mereka pada saat ajal.
Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. (Matius 25:34)

Apakah kebahagian surgawi itu?
Bertemu muka, melihat Allah sebagaimana Dia adanya dan memiliki-Nya dalam kasih untuk selama-lamanya.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. (1 Korintus 13:12)

Mengapa hidup di Surga memberikan kebahagiaan yang sempurna?
Karena Allah menciptakan kamu bagi Diri-Nya sendiri dengan cara yang sedemikian rupa sehingga kamu dapat dan akan menemukan sukacita dan kepuasan yang sempurna hanya dalam Diri-Nya saja.
“Engkau telah menciptakan kami bagi Diri-Mu sendiri, ya Tuhan, dan hati kami tidak akan pernah tenang sampai mereka beristirahat dalam Engkau.” (Santo Agustinus)

Apakah setiap orang akan mendapat kebahagiaan yang sama di surga?
Tidak, kebahagiaan sebagian orang akan lebih besar daripada yang lainnya, tetapi setiap orang akan menjadi sebahagia mungkin.

Mengapa sebagian orang memiliki kebahagiaan yang lebih besar daripada yang lainnya?
Karena sebagian orang tersebut akan melihat Allah dengan lebih jelas.
“Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” (Matius 16:27)

Mengapa sebagian orang tersebut bisa melihat Allah lebih jelas?
Karena mereka meninggal dengan kasih yang lebih besar kepada Allah dan rahmat yang lebih besar dalam diri mereka.
“dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” (1 Korintus 3:8)

Lantas, bagaimana semestinya kamu menjalani waktumu di dunia?
Dengan bertekun untuk tumbuh dalam rahmat sebanyak mungkin sebelum kamu meninggal.
“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidiup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.” (Yohanes 6:27)
“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4)

Apakah akan ada duka nestapa atau sengsara di surga?
Tidak. Juga tidak akan ada rasa sakit, godaan atau dosa, melainkan sukacita yang utuh dan abadi.
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan adalagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. (Wahyu 21:4)

Apakah kamu akan mengenali sanak keluarga dan sahabatmu di surga?
Ya! Dan juga para malaikat dan orang kudus.
“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:19)

Hal apakah yang bisa menghalangi kamu untuk masuk ke surga?
Meninggal sementara masih memiliki dosa serius yang mana kamu belum sepenuhnya bertobat.
Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Wahyu 21:27)

Berapa sering kita harus berdoa supaya bisa masuk surga?
Sesering mungkin karena inilah tujuan hidupmu yang terutama.
Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup, Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mazmur 42:2-3)

Bahan Renungan

Kita menjadi bosan akan hal-hal enak dari dunia ini karena mereka hanya memiliki nilai kebaikan dan keindahan dan daya tarik yang terbatas. Karena Allah memiliki segala kesempurnaan yang tak terbatas, Dia akan menjadi bagi kita sumber dari sukacita sempurna yang tiada akan pernah berakhir. Kita tidak akan pernah merasa lesu atau bosan di Surga. Pengetahuan itu sendiri bahwa kebahagian surgawi kekal sifatnya, sudah memadai sebagai sukacita tambahan.

Ketika Santa Bernadette menjelang ajal, dia berkata-kata dengan penuh penyesalan bagi mereka yang kurang menginginkan Surga. “Sedangkan bagi saya,” dia berkata, “tidak demikian halnya. Marilah kita memutuskan untuk masuk ke surga. Mari kita bekerja untuk itu, menderita untuk itu. Hal-hal lain tidak masuk hitungan.”

Sumber : gerejakatolik.org

Older Posts »

Powered by WordPress