Renungan Harian

15 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 8: Rahmat

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 8: Rahmat

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. (Matius 22:1-14)

Mengapa Allah menciptakan kamu?
Allah menciptakan kamu untuk menunjukkan kepadamu kebaikan-Nya, untuk membimbing kamu supaya kamu mengenal, mengasihi dan melayani Dia di dunia ini dan untuk membolehkanmu mengambil bagian dalam kebahagian-Nya di surga.

Apakah seorang manusia biasa bisa mengambil bagian dalam kebahagiaan Allah?
Tidak, sebab Allah memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda; tidak hanya sekedar cara hidup yang berbeda, tetapi hidup yang berbeda.

Bagaimana hidup Allah itu lebih tinggi daripada hidup manusia?
Hidup Allah itu tidak terbatas, tidak diciptakan, dan independen, sementara hidup manusia sangat terbatas, diciptakan oleh Allah dan tergantung seluruhnya kepada-Nya.

Lantas, apa yang dibutuhkan untuk turut menikmati kebahagiaan Allah?
Suatu hidup yang baru yang kita sebut rahmat.

Apakah rahmat itu?
Yaitu mengambil bagian dalam hidup Allah, yang mengangkat kamu ke tingkat Allah dan memberi kamu kuasa untuk mengambil bagian dalam kebahagiaan-Nya.
“Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi,” (2 Petrus 1:4)

Apakah rahmat membuat kita sama seperti Allah?
Tidak, tetapi rahmat membuat kita menjadi mahluk yang baru, bagi Allah, sebagai anak-anak angkat-Nya, yang hidup pada tingkat diatas hidup manusia biasa dan dipersiapkan untuk hidup bersama Allah di surga. Rahmat tidak membuat kita menjadi Allah, karena rahmat hanya suatu bagian yang diciptakan dalam kodrat dan hidup Allah.

Bisakah kamu masuk ke Surga tanpa rahmat?
Tidak, sama sekali tidak mungkin untuk hidup di surga tanpa rahmat. Pakaian pesta dalam perumpamaan diatas adalah rahmat. Ruang perjamuan adalah surga, dan sang raja adalah Allah. Para hamba-hamba adalah para malaikat dan kegelapan diluar adalah neraka.

Apakah ada rahmat pada dirimu ketika engkau dilahirkan?
Tidak. Seorang manusia mengawali hidup mereka tanpa karunia rahmat.
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:23-24)

Lantas, bagaimana kamu bisa mendapat karunia rahmat?
Pembaptisan memberi rahmat kepada jiwamu untuk pertama kalinya.
Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yohanes 3:5)

Bisakah kita bertumbuh dalam hidup rahmat?
Ya, terutama dengan menerima Komuni Suci dan Sakramen-sakramen lainnya, dan dengan doa dan perbuatan-perbuatan baik.
“Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 3:18)

Bisakah kamu kehilangan rahmat?
Ya, dengan memalingkan diri kita dari kasih Allah melalui dosa yang serius.
“dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:5)

Bisakah kamu merasakan rahmat dalam jiwamu?
Tidak, karena kita tidak dapat merasakan atau mengalami melalui lima panca-indra kita sesuatu hal seperti rahmat yang bersifat spiritual.

Apakah suatu perasaan religius bisa menunjukkan adanya rahmat dalam jiwa?
Tidak. Demikian juga tidak adanya perasaan serupa bisa menjadi petunjuk hilangnya rahmat. Seseorang yang sedang dibaptis dengan iman dan penyesalan yang tulus akan dosa dapat memastikan dari janji-janji Yesus bahwa Pembaptisan membawa karunia rahmat, meskipun dia tidak mengalami perasaan religius tertentu selama ritual upacara berlangsung.

Bahan Renungan

Sejak dosa asal datang ke dunia, hanya satu orang, karena hak istimewa, telah memulai hidup, sejak saat konsepsi dalam kandungan, telah diberkati dengan karunia rahmat. Dia adalah Santa Perawan Maria, bunda Yesus. Karunia ini disebut Yang Dikandung Tanpa Noda.

Dosa yang serius menyebabkan kematian atas hidup yang rahmati seseorang manusia. Akan tetapi, tidak sesuatupun dapat membunuh jiwa manusia yang alami karena jiwa itu sifatnya kekal.

Meskipun tidak tepat untuk dikatakan bahwa ramat membuat kita sama seperti Allah, Santo Agustinus yang hebat tidak ragu-ragu untuk mengatakan sewaktu berbicara tentang Yesus dan karunia rahmat yang kita miliki: “Allah menjadi manusia supaya manusia bisa menjadi allah.”

Ada perkataan bahwa antara dua orang, yang satu memiliki rahmat sedangkan yang satunya lagi tidak, ada perbedaan yang lebih besar atas nilai dan harkat, dibanding perbedaan antara sebuah batu dan seorang malaikat. Bagian terkecil dari rahmat memiliki nilai yang lebih besar dibanding segala benda-benda yang diciptakan. Umat Kristen, kenalilah harkatmu!

Sumber : gerejakatolik.org

10 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 7: Manusia dan Tujuan Hidup Ini

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:10

Pasal 7: Umat Manusia dan Tujuan Hidup Ini

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada.” (Matius 6:19-21)

Apakah yang dimaksud dengan seorang manusia?
Suatu mahluk yang memiliki jiwa dan raga.
“Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mazmur 8:6)

Apakah yang dimaksud dengan jiwa?
Ialah bagian spiritual dari manusia yang tidak akan pernah mati.
“Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,” (Kejadian 1:26)

Dibagian manakah dalam dirimu berdiam jiwamu?
Di setiap bagian yang hidup dari dirimu.

Apakah jiwamu itu sungguhan?
Ya, sama sungguhnya seperti tubuhmu.

Bagaimana kamu tahu bahwa kamu memiliki jiwa?
Kamu bisa melakukan hal-hal yang spiritual – kamu bisa berpikir, melakukan hal-hal tanpa dipaksa, menolak untuk melakukan hal-hal, membuat benda-benda, menikmati humor, atau buku, atau film, berbicara, mengerjakan berbagai pekerjaan. Binatang tidak dapat melakukan hal-hal seperti ini. Yang membuat kamu bisa melakukan hal-hal tersebut adalah jiwamu.

Darimana jiwa itu berasal?
Allah menciptakan jiwamu dan menyatukannya dengan tubuhmu yang sangat kecil dan belum berkembang, dalam rahim ibumu.

Berapa lama jiwa dan raga kita tinggal bersama-sama?
Sampai ajal, yang disebabkan oleh pemisahan atas jiwa dan raga.
“dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” (Pengkhotbah 12:7) “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (Matius 25:13)

Apa yang akan terjadi pada tubuhmu ketika engkau meninggal?
Tubuhmu akan membusuk dan diserap oleh bumi darimana ia berasal.
“sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19)

Apa yang akan terjadi dengan jiwamu ketika engkau meninggal?
Jiwamu akan dihakimi oleh Allah dan akan pergi ke surga atau ke neraka.
“Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibrani 9:27)

Apakah jiwamu akan pernah bersatu lagi dengan tubuhmu?
Ya, pada Hari Penghakiman Allah akan mengambil kembali tubuhmu dari bumi dan menggabungkannya dengan jiwamu. Inilah Kebangkitan.
“Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa.” (1 Korintus 15:51-52)

Setelah Kebangkitan, apakah jiwa dan ragamu akan selalu bersama-sama?
Ya, baik jiwa dan raga akan tinggal bersama selamanya, apakah itu di surga atau di neraka.
“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan apa yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2 Korintus 5:10)

Kapankah Hari Penghakiman itu terjadi?
Tak seorangpun tahu kecuali Allah sendiri.
“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36)

Bagaimana kamu harus bersiap-siap untuk Hari Penghakiman?
Berdoa secara terus menerus, berjuang untuk tumbuh dalam kasih kepada Allah dan sesama setiap harinya, mematuhi segala perintah-perintah Allah, melakukan penitensi atas dosa-dosamu.
“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Lukas 21:34-36)

Lantas, apa sesungguhnya tujuan hidup ini?
Untuk memuliakan Allah dengan selalu berusaha untuk mengenal dan mengasihi dan melayani-Nya dengan lebih baik dan dengan menolong orang-orang lain untuk berbuat hal yang sama.
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:36-37)
“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kamu berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, sedang kamut idak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.’ Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:13-17)

Sumber : gerejakatolik.org

5 October 2009

Katekismus Singkat – Pasal 6: Para Malaikat dan Iblis

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 6: Para Malaikat dan Iblis

“Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, mahluk-mahluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: ‘Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, an kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Wahyu 5:11-12)

Apakah malaikat itu?
Malaikat adalah roh, yang tidak memiliki jasad tubuh.

Apakah seorang malaikat adalah pribadi yang sesungguhnya?
Ya, karena seorang malaikat juga mempunyai pikiran.

Bagaimana kita tahu bahwa malaikat itu benar-benar ada?
Alkitab menyebutkan tentang malaikat sekitar tiga ratus kali.

Mengapa Allah menciptakan para malaikat?
Untuk melayani-Nya di surga, untuk bertugas sebagai para pengantar pesan-pesan-Nya kepada manusia dan sebagai pelindung bagi umat manusia.

Apakah kita memiliki malaikat-malaikat penjaga?
Ya, Allah menugaskan para malaikat untuk mendampingi setiap manusia. Sangat boleh jadi setiap orang memiliki malaikat pendampingnya masing-masing.
“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:10)

Apakah yang dilakukan malaikat pelindungmu bagimu?
Malaikat pelindungmu berdoa bagimu, melindungimu dari yang jahat dan memberi inspirasi kepadamu untuk berbuat baik.
“Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan. Jagalah dirimu di hadapannya dan dengarkanlah perkataannya.” (Keluaran 23:20-21)

Apakah seluruh malaikat mematuhi Allah?
Tidak, beberapa dari mereka, dipimpin oleh Setan, membangkang dan segera dikirim ke neraka. Inilah malaikat-malaikat yang telah jatuh atau para iblis.
“Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.” (Wahyu 12:7-8)

Apakah iblis itu sungguh-sungguh ada?
Ya, Alkitab seringkali berbicara tentang iblis sebagai orang sungguhan.
“Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah.” (Wahyu 12:9)

Apa yang dilakukan oleh iblis terhadap seorang manusia?
Iblis menggoda orang-orang untuk berbuat dosa.
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Petrus 5:8-9)

Bagaimana kita dapat melawan iblis?
Senjata terbaik untuk melawan iblis adalah doa dan pengorbanan, seperti berpuasa.
“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:11-12)

Bahan Renungan

Malaikat pelindungmu adalah orang sungguhan, yang selalu bersamamu untuk menolong dan melindungimu. Seringlah berdoa kepadanya dan berterima kasih kepadanya atas bantuannya. Malaikat pelindungmu adalah tanda betapa besar kasih dan perhatian Allah kepadamu.

Sang iblis telah berhasil memberi kesan kepada banyak orang bahwa ia cuma hantu bohongan seperti Hallowen. Dia adalah orang sungguhan dan oleh karenanya sungguh berbahaya bagimu.

Tidak semua godaan datang dari iblis. Godaan lainnya datang dari daging kita sendiri dan dari dunia di sekitar kita.

Sumber : gerejakatolik.org

25 September 2009

Katekismus Singkat – Pasal 4: Doa

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 4: Doa

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meinta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang daripadamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Matius 7:7-11)

Apakah yang dimaksud dengan doa?
Doa adalah memanjatkan hati dan pikiran kita kepada Allah untuk berkomunikasi dengan-Nya.

Mengapa kita harus berdoa?
Kita harus berdoa:
a. untuk menyembah Allah, untuk berkata kepada-Nya bahwa Dialah yang menciptakan kita dan bahwa kita bergantung dalam segala hal kepada-Nya.
b. untuk berterima kasih kepada Allah atas segala rahmat karunia yang telah diberikan-Nya kepada kita.
“Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Korintus 4:7)
c. untuk meminta ampun dari Allah atas dosa-dosa kita.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. (Lukas 18:13)
d. untuk meminta pertolongan Allah dalam segala hal
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamua kan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7)

Kapankah kita harus berdoa?
Setiap hari.
a. pada pagi hari, untuk mempersembahkan hari ini kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya dalam menghadapi godaan-godaan hari ini.
b. sepanjang hari, terutama ketika ada godaan.
c. pada malam hari, untuk berterimakasih kepada Allah atas berkat karunia pada hari itu dan untuk meminta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang telah kita lakukan pada hari itu.
d. sebelum dan setelah makan.

Kepada siapa kita berdoa?
a. kepada Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.
b. Kita juga bisa berdoa kepada Santa Perawan Maria, para malaikat dan orang kudus.
Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. (Wahyu 8:4)

Mengapa kita boleh berdoa kepada Santa Perawan Maria, para malaikat dan para orang kudus?
Karena mereka adalah sahabat-sahabat terbaik Allah dan Allah akan mendengarkan mereka lebih daripada saudara-saudari kita yang lain yang masih hidup dan masih berdosa.
“…pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” (Ayub 42:8-9)

Kepada siapa kita harus berdoa?
a. Bagi semua orang, siapa saja yang masih hidup di dunia termasuk orang-orang yang memusuhimu.
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)
b. Bagi arwah-arwah di Api Penyucian. (lihat pasal 12)

Apa intensi doa-doa kita?
Setiap hari berdoalah supaya kita bisa masuk surga; ketika berdoa bagi hal-hal lain, selalu ucapkan: “Jika ini sesuai dengan kehendak-Mu, ya Tuhan.”
“Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:32-33)

Apakah Allah selalu mendengar doa-doa kita?
Ya, tetapi Dia tidak selalu memberikan apa kita minta, karena kita tidak selalu tahu apa yang terbaik bagi kita dan kadang-kadang kita meminta hal-hal yang bisa berakibat buruk bagi diri kita.

Apakah Allah mendengar doa-doa orang berdosa?
Ya, jika mereka memintanya dengan iman yang tulus memohon pertolongan-Nya.
“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah…” (Luka 18:13-14)

Bagaimana kita harus berdoa?
a. dengan penuh perhatian, mengarahkan pikiran kita pada doa kita.
b. dengan rendah hati, sadar bahwa kita tidak memiliki kuasa apapun tanpa Allah.
c. dengan penuh keyakinan, percaya bahwa Allah bisa melakukan segala hal.
d. dengan penuh ketekunan, tidak pernah kehilangan harapan.
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya,yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.” (1 Yohanes 5:14)

Mengapa doa bersama umum juga diperlukan?
Karena sebagai anggota umat manusia, kita sudah selayaknya memberikan pengakuan kepada-Nya sebagai Tuan segenap umat manusia.

Bagaimana doa bersama umum bisa menolong dunia?
Dengan mendemonstrasikan idealisme Kristiani tentang persaudaraan umat manusia yang mempersatukan laki-laki dan wanita dari segala umur, segala suku bangsa dan segala tempat di dunia dalam menyembah Allah Bapa kita di surga.

Mengapa suatu keluarga harus berdoa bersama?
a. Untuk memohon kepada Allah agar memberkati mereka sebagai suatu keluarga.
b. Untuk meniru Keluarga Kudus (Yesus, Maria dan Yusuf).
c. Untuk memberi teladan yang baik kepada anak-anak.
d. Untuk memelihara ikatan tali kekeluargaan.
“Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

Berapa kali suatu keluarga sebaiknya berdoa bersama?
Sekurang-kurangnya sekali sehari, sebaiknya setelah makan malam, ketika segenap anggota keluarga sedang bersama-sama.

Mengapa umat Katolik memiliki patung-patung dan gambar-gambar orang-orang kudus?
a. Karena mereka ingin menghormati Santa Perawan Maria dan para kudus, sama seperti kita menghormati para pahlawan.
b. Karena dengan melihat gambar-gambar dan patung-patung dari para kudus Allah, menolong kita untuk mengarahkan pikiran kita pada “perkara-perkara yang diatas” (Kolose 3:2) dan dengan demikian menolong kita dalam berdoa.

Bahan Renungan

Selain doa-doa seperti Bapa Kami dan Salam Maria, kita mesti sering berdoa langsung dari hari kita dengan kata-kata kita sendiri. Doa-doa kita yang terbaik seringkali dilakukan bahkan tanpa mengejawantahkan pikiran-pikiran kita dalam kata-kata. Ini disebut “berdoa dalam kata-katamu sendiri tanpa kata-kata”. Sebutan lain bagi hal ini adalah doa pikiran atau meditasi. Berdoa dengan cara ini barang lima-belas atau dua-puluh menit setiap hari adalah salah satu cara yang terbaik untuk membangun persahabatan dengan Tuhan kita.

Amat baik untuk berdoa di siang hari dengan doa-doa singkat, seperti “Yesus, aku mengasihimu.” “Ya Tuhan, saya mempersembahkan pekerjaan saya saat ini bagi dosa-dosa saya,” “Ya Yesus, kasihanilah.”

Tidak harus berlutut pada waktu berdoa, akan tetapi dengan sambil berlutut, ini bisa membantu menciptakan sikap perilaku dan semangat doa yang sesuai pada waktu berdoa, terutama pada waktu doa pagi dan doa malam.

Sumber : gerejakatolik.org

20 September 2009

Katekismus Singkat – Pasal 3: Allah dan Tritunggal Maha Kudus

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 3: Allah dan Tritunggal Maha Kudus

O alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. [Roma 11:33-36]

Siapakah Allah?
Allah adalah Sang Pencipta “yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya” [Mazmur 146:6].

Apa yang dimaksud dengan kata “Pencipta”?
Artinya Allah membuat segala sesuatunya dari ketiadaan. 
“Aku mendesak, ya anakku, tengadahlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatunya yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikianpun bangsa manusia dijadikan juga.” [2 Makabe 7:28].

Apakah yang dimaksud dengan ciptaan?
Yaitu segala sesuatu yang dijadikan oleh Allah.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah itu ada?
Jika kamu meneliti segala hal di dunia ini, kamu harus mengakui bahwa seseorang telah membuatnya.
“Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan. Atau bertuturlah kepadabumi, maka engkau akan diberinya pengajaran, bahkan ikan di laut akan bercerita kepadamu. Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” [Ayub 12:7-10]. “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah” [Mazmur 14:1].

Mengapa kita tidak dapat melihat Allah?
Karena Dia tidak memiliki tubuh.
“Allah itu roh” [Yohanes 4:24].

Dimanakah Allah berada?
Allah itu berada dimana-mana.
“Kemana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, kemana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat diurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. [Mazmur 139:7-8]

Apakah Allah bisa melihat dan mengetahui segala hal?
Ya, karena Dia hadir dimana-mana. Ini adalah fakta yang menghibur. 
“Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” [Amsal 15:3]

Berapakah umur Allah?
Kita tidak dapat mengukur umur Allah. Dia sudah ada dulu, sekarang dan selama-lamanya, tidak berubah. Ini yang dimaksud dengan kekekalan. 
“Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, Engkaulah Allah.” [Mazmur 90:2].

Apakah Allah bisa melakukan segala hal?
Ya, “bagi Allah segala sesuatu mungkin ” [Matius 19:26].

Apakah Allah itu hidup?
Ya, Allah itu hidup; Dia adalah sumber segala kehidupan.

Apakah Allah tergantung pada seseorang atau sesuatu, atau apakah Dia memiliki cacat barang sedikitpun?
Tidak, Dia independen dan sama sekali sempurna dalam segala hal dan tanpa batasan apapun. Kita menyebut hal ini kesempurnaan yang tanpa batas.
“…tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” [Kisah para rasul 17:25].

Apakah Allah memperhatikan kita?
Ya, dan Dia mengasihi kita secara pribadi dengan kasih yang tanpa batas.
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” [Yesaya 49:15].

Apakah kasih Allah termasuk mengampuni segala dosa-dosa kita?
Ya, jika kamu sungguh-sungguh menyesali dosa-dosamu. 
“Sebab Tuhan, Allahmu, pengasih dan penyayang, Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari padamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya.” [2 Tawarikh 30:9b]

Apa yang dimaksud dengan Tritunggal Maha Kudus?
Ini berarti ada tiga pribadi dalam satu Allah. 
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” [Matius 28:19].

Siapakah tiga Pribadi dalam Allah?
Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. 
“Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.” [1 Yohanes 5:7]

Apakah ketiga Pribadi dalam Tritunggal MahaKudus setara satu dengan yang lainnya?
Ya, Mereka setara, tetapi masing-masing adalah pribadi yang berbeda, dan masing-masing adalah Allah yang sejati, sungguh-sungguh Ilahi.

Bisakah kita memahami kebenaran ini tentang Allah?
Ini adalah suatu misteri yang tidak seorang manusiapun bisa memahami sepenuhnya dengan pikirannya.

Bahan Renungan

Ada banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dipahami oleh alam pikiran manusia. Oleh karenanya, jangan heran kalau kita tidak dapat memahami sepenuhnya tentang bagaimana Allah menciptakan dunia.

Jika Allah tidak mewahyukan hal ini kepada kita, kita tidak akan pernah tahu bahwa ada tiga pribadi dalam satu Allah. Allah mewahyukan kepada kita kebenaran yang intim dari diri-Nya karena Dia mengasihi kita dan karena Dia ingin supaya kita melalui iman dan pembaptisan, mendapat keakraban yang mendalam dengan ketiga pribadi.

Sumber : gerejakatolik.org

15 September 2009

Katekismus Singkat – Pasal 2: Alkitab dan Tradisi

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , , — Renungan Harian @ 10:00

Pasal 2: Alkitab dan Tradisi

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. [Ibrani 1:1-2]

Apakah yang dimaksud dengan Alkitab?
Suatu kumpulan tulisan-tulisan yang merupakan hasil inspirasi Allah dan yang mengandung pesan-pesan keselamatan.
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” [2 Timotius 3:16-17]

Apa yang dimaksud dengan kata “hasil inspirasi Allah”?
Artinya adalah bahwa Allah memilih beberapa orang dan membimbing mereka untuk menuliskan segala hal, dan hanya hal-hal tertentu, yang Allah ingin untuk dituliskan. 
“Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” [2 Petrus 1:21].

Lantas, sesungguhnya siapakah pengarang Alkitab yang sebenarnya?
Allah tentunya, karena Dialah yang membimbing orang-orang ini untuk menuliskan hal-hal yang diinginkan-Nya, meskipun Dia membiarkan mereka menulis dengan bahasa dan gaya mereka masing-masing.
“Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.”[Galatia 1:11-12].

Kapankah segala tulisan-tulisan ini dijadikan satu?
Gereja Katolik menjadikan semuanya dalam satu buku antara tahun 350-405 Masehi.

Bagaimana pembagian dalam Alkitab?
Alkitab terbagi dalam dua bagian utama, Perjanjian Lama (Yahudi) dan Perjanjian Baru.

Apa yang termasuk dalam Perjanjian Lama?
Perjanjian Lama mengandung hal-hal yang diwahyukan oleh Allah kepada umat manusia sejak awal dunia sampai dnegan kedatangan Putera-Nya, Yesus Kristus.

Apa yang termasuk dalam Perjanjian Baru?
Perjanjian Baru mengandung apa yang Tuhan wahyukan melalui Putera-Nya dan melalui Para Rasul-Nya

Apakah mungkin seseorang bisa salah mengartikan isi Alkitab?
Memang benar, bahkan Alkitab sendiri mengatakan demikian.
“Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. “[2 Petrus 3:16].

Apakah segala pengetahuan kita tentang apa yang Tuhan ajarkan hanya kita dapat melalui Alkitab saja?
Tidak, ada juga apa yang disebut sebagai Tradisi Suci.
“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini” [Yohanes 20:30].

Apakah yang dimaksud dengan Tradisi?
Yaitu Firman Allah yang diturunkan kepada kita melalui para Rasul dalam pengajarannya dan melalui para penerusnya dalam Gereja sampai hari ini.
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. ” [2 Tesalonika 2:15].

Apakah kamu harus percaya pada Tradisi?
Ya, karena Tradisi meneruskan firman Allah yang murni. Tradisi Suci bersama-sama dengan Kitab Suci membentuk satu deposit yang utuh dari firman Allah. Umat Kristen perdana belajar segalanya dari Tradisi, karena baru nanti kemudian sebagian dari ajaran-ajaran Yesus dituliskan. Tulisan yang terakhir dituliskan yaitu menjelang akhir abad pertama.

Apakah kita boleh untuk memilih apa yang kita inginkan?
Tidak, kita wajib untuk menerima segala kebenaran yang tercantum dalam Alkitab dan Tradisi, karena inilah cara Tuhan berbicara kepada kita.

Bagaimana kita dapat mengetahui dan mengerti arti sebenarnya dari firman Allah?
Tugas menjelaskan secara resmi arti dari firman Allah dalam Alkitab dan Tradisi telah dipercayakan kepada Gereja yang hidup, yang didirikan oleh Tuhan kita.

Bahan Renungan

Masalah-masalah duniawi dan masalah-masalah iman datang dari Tuhan yang sama. Oleh karenanya tidak bisa ada kontrakdiksi antara Alkitab dan ilmu pengetahuan karena keduanya sama-sama mencari kebenaran yang tidak bisa diubah. Kisah penciptaan dunia dan umat manusia, sebagai contohnya, tidak dimaksudkan oleh Allah sebagai suatu penjelasan ilmiah, tetapi semata-mata sebagai suatu cara untuk membimbing orang-orang pada masa itu.

“Mengabaikan Kitab Suci sama dengan mengabaikan Kristus [Santo Yeremia]

Banyak orang membeli Alkitab, mulai membacanya dan lantas berhenti, karena membaca Alkitab tanpa bantuan bisa mematahkan semangat. Bacalah Kitab Suci dengan bantuan buku-buku yang berisi tafsiran ayat-ayat Kitab Suci.

Sumber : gerejakatolik.org

10 September 2009

Katekismus Singkat – Pasal 1: Agama

Filed under: Katekismus Katolik — Tags: , , — Renungan Harian @ 15:35

Pasal 1: Agama

Apa tujuan dari pelajaran ini?
Untuk mengisi apa yang kurang dari hidup manusia – yaitu pengetahuan dan praktek dari agama yang sejati.
“Hati orang berpengertian mencari pengetahuan, tetapi mulut orang bebal sibuk dengan kebodohan” [Amsal 15:14].

Mengapa pelajaran agama itu penting?
Karena agama membawa kita pada persahabatan dengan Allah sekarang dan selamanya, dan tiada lain yang lebih penting daripada hal ini.
“Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” [Matius 16:261. "Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." [Yohanes 8:32].

Apa yang dimaksud dengan “agama”?
a) Mengakui Allah dengan beriman kepada-Nya dan percaya akan segala hal yang telah diwahyukan-Nya kepada umat manusia.
b) Mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita.
c) Memuliakan Allah dengan melakukan kehendak-kehendak-Nya seperti yang diajarkan oleh Kristus kepada kita lewat firman-firman dan teladan-teladan-Nya.
“Hendaknya kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” [Yakobus 1:22]

Apakah agama itu sungguh-sungguh diperlukan?

Ya, karena beberapa alasan:
a) Allah, Bapa Surgawi kita, menginginkan setiap umat manusia untuk mengikuti rencana-Nya.
b) Tanpa agama dan tanpa mengikuti kehendak Allah, hidup menjadi hampa tanpa artil. Arti yang terutama dari hidup manusia adalah untuk mengakui Allah dan untuk memuliakan nama-Nya dengan melakukan kehendak-Nya seperti yang diajarkan oleh Kristus kepada kita melalui firman-firman-Nya dan teladan hidup-Nya dan dengan demikian untuk mendapat hidup yang kekal.
c) Hidup tanpa beragama membawa pada hidup yang tidak bahagia. 
“Sungguh celakalah orang yang menghina kebijaksanaan dan ketertiban, hampalah harapan mereka dan sia-sialah jerih payahnya. Para isteri mereka adalah bodoh, dan buruklah anak-anak mereka, keturunannya terkutuk.” [Kebijaksanaan Salomo 3:11-12].

Apa yang akan terjadi terhadap mereka yang tidak menjalankan agama?
Mereka yang bersalah karena mengabaikan ajaran agama akan masuk neraka. 
“Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. ” [2 Tesalonika 1:7-8].

Apa manfaat agama dalam hidupmu di dunia?
Persahabatan dengan Allah, menjadi anak-anak Allah dan mengambil bagian dalam hidup kekal, hati nurani yang baik, kedamaian hati. Ini adalah harta yang terbesar yang bisa dimiliki oleh setiap orang.
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.[Lukas 11:28].

 

Bahan Renungan
Fakta yang menyedihkan adalah banyak orang pada masa kini kurang memperhatikan Tuhan atau malah tidak sama sekali., sementara yang lainnya berpikir bahwa Tuhan itu jauh, tidak peduli, atau malah tidak ada sama sekali. Ini disebabkan karena kehidupan modern berpusat pada diri manusia, dan bukan berpusat pada Tuhan. 

Ada banyak orang-orang baik yang nyaris tidak mengenal Tuhan maupun agama. Tetapi ketidak-pedulian itu tidak baik. Orang-orang ini akan lebih mengasihi Tuhan jika saja mereka mengenal-Nya. Segala hal yang kita pelajari tentang Tuhan bahkan adalah pendorong untuk lebih mengasihi-Nya. Inilah sebabnya mengapa pelajaran agama sungguh indah, penuh suka-cita, menarik hati dan sangat bernilai. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. ” [1 Korintus 2:9].

Sumber : gerejakatolik.org

« Newer Posts

Powered by WordPress