Renungan Harian

6 October 2014

Renungan Harian, 6 Oktober 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. (Luk 10:25-37)

Orang yang mau repot dan berkorban adalah orang yang mengasihi sesamanya. Yesus mengajak kita untuk mengasihi, bukan hanya sesama yang kita kenal, tetapi juga semua orang. Dalam kehidupan keluarga, sikap mau repot dan berkorban, serta mengalahkan kepentingan diri menjadi kunci keharmonisan hidup berkeluarga.

Mazmur 111:1-2.7-8.9.10c
Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.
Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,
kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.
Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat.
Puji-pujian kepada-Nya tetap

Bacaan Lengkap hari ini:
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”
26  Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
27  Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
28  Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”
29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
30  Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
32  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
33  Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
34  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
35  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
36  Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
37  Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

4 October 2014

Renungan Harian, 4 Oktober 2014 – Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” (luk 10:17-24)

St. Fransiskus Assisi, yang kita rayakan peringatannya hari ini, telah menemukan Tuhan sehingga ia meninggalkan segala-galanya. Kita telah ditemukan oleh Kristus dan dibaptis dalam nama-Nya. mari kita menghayati penemuan akan Kristus ini didalam hidup kita sehari-hari, karena penemuan akan kristus inilah yang menjadi kunci keutuhan dalam hidup berkeluarga, berkomunitas dan bermasyarakat.

Mazmur 119:66.71.75.91.125.130
Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.
Aku tahu, ya TUHAN, bahwa hukum-hukum-Mu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan.
Menurut hukum-hukum-Mu semuanya itu ada sekarang, sebab segala sesuatu melayani Engkau.
Hamba-Mu aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku tahu peringatan-peringatan-Mu.
Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Bacaan Lengkap hari ini:
17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.”
18  Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
19  Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
20  Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
21  Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
22  Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.”
23  Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.
24  Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”

3 October 2014

Renungan Harian, 3 Oktober 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16)

Tidaklah pantas bila kita mengeraskan hati menolak Tuhan. Peringatan dan kecaman Yesus itu, layak kita perhatikan dan indahkan. Tidak pantas bila kita membela diri untuk kelakuan buruk kita. Justru reaksi dan kecaman dari pihak luar bahkan Yesus sendiri harus menjadi cermin, bahwa hidup kita ini harus semakin baik dan benar dihadapan Tuhan dan sesama. Bukankah hidup ini selayaknya bertumbuh seperti hidup Yesus saat masih hidup didunia?

(Mazmur 139:1-3.7-10.13-14ab)
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.
Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat,

Bacaan Lengkap hari ini:
13 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.
15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!
16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.

30 September 2014

Renungan Harian, 30 September 2014 – Peringatan Wajib Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. (Luk 9:51-56)

Orang Samaria menolak Yesus, karena merasa hanya dijadikan transit, mereka ingin Yesus tinggal dikotanya. Tapi penolakan ini menyakitkan hati para murid. Berbeda dengan orang Samaria, St. Hieronimus yang kita rayakan hari ini, justru tanpa serep menerima dan mencintai Yesus. Dengan baptisan, kita telah menyatakan diri sebagai orang yang mencintai dan menerima Yesus. Namun hal ini masih perlu diuji dengan bukti. “Sejauh mana kita sudah menerima Yesus?” Sejauh kata? Sejauh doa? Atau sejauh ide dan pikiran belaka? Semoga sejauh perbuatan nyata!

(Mazmur 88:2-3,4-5,6,7-8)
Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau.
Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;
sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.
Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan.
Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasa-Mu.
Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.
Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku.

Bacaan Lengkap hari ini:
51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,
52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.
53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.
54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”
55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.
56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

27 September 2014

Renungan Harian, 27 September 2014 – Peringatan Wajib Santo Vincentius a Paulo, Imam

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” (Luk 9:43b-45)

Penderitaan dan kematian adalah topik yang tidak menarik untuk dibicarakan. Namun Yesus tetap mengatakannya berulang ulang, sebab itulah jalan keselamatan! Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan dan tidak ada surga tanpa kematian. St. Vinsensius a Paulo yang kita peringati hari ini adalah orang yang sangat menghayati makna penderitaan untuk kebahagiaan sesama. Hidup St. Vinsensius selalu dibimbing dan dikuatkan oleh penderitaan Yesus, sehingga mampu memberikan pelayanan dan bimbingan pada banyak orang yang mengalami penderitaan.

Mazmur 90:3-4,5-6,12-13,14,17
Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”
Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.
Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Kembalilah, ya TUHAN  —  berapa lama lagi?  —  dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Bacaan Lengkap hari ini:
43b Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
44  “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”
45  Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

26 September 2014

Renungan Harian, 26 September 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” (Luk 9:18-22)

Menurut St. Hieronimus, tidak mengenal Kitab Suci berarti juga tidak mengenal Kristus. Belum cukup bila kita hanya merenungkan sendiri Kitab Suci. Tafsiran ilmiah terhadap Kitab Suci pun hanya bersifat membantu. Lagipula penafsiran Kitab Suci yang otentik selalu harus sesuai dengan Iman Gereja. Tempat yang paling tepat untuk membaca dan mendengarkan Kitab Suci adalah liturgi. Setiap kali Kitab Suci dibacakan dalam Gereja, terutama dalam Ekaristi, maka Allah sendiri berbicara kepada umat-Nya. Alangkah indahnya bila dalam keluarga dihidupkan tradisi membaca Kitab Suci agar makin mengenal Dia dengan benar!

(Mazmur 144:1-4)
Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang;
yang menjadi tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku, perisaiku dan tempat aku berlindung, yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!
Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?
Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

Bacaan Lengkap hari ini:
18 Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”
19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.”
20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.”
21 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun.
22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”

25 September 2014

Renungan Harian, 25 September 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (Luk 9:7-9)

Sebagai orang beriman, tak cukup hanya mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Bahkan, tanpa henti pula kita menuntut Tuhan untuk menampilkan diri dan meyakinkan kita. Kerap kita bersikap seperti Herodes dan “berusaha melihat Yesus” namun tanpa disertai iman dan keinginan untuk bersahabat dengan Yesus. Sehingga kita sering merasakan kesia-siaan hidup, karena merasa Tuhan tidak ada. Kita lupa bahwa napas baru kita setiap kita bangun pagi adalah bukti karya Tuhan? KIta patut bersyukur kepada Tuhan karena Dia sudah memberikan yang terbaik bagi kita.

(Mazmur 90:3-4.5-6.12-13.14.17)
Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”
Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.
Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,
di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Kembalilah, ya TUHAN  —  berapa lama lagi?  —  dan sayangilah hamba-hamba-Mu!
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.
Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Bacaan Lengkap hari ini:
7  Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.
8  Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.
9  Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

24 September 2014

Renungan Harian, 24 September 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6)

Seorang utusan haruslah memiliki sikap ketergantungan total pada Allah yang telah mengutusnya. Ia yang telah mengutus, Ia pula yang akan menyediakan segala kelengkapan yang dibutuhkan. Dengan demikian, dari pihak para utusan, kepercayaan dan kepasrahan pada penyelenggaraan ilahi merupakan suatu tuntutan mutlak yang harus diperhatikan. Tugas perutusan kita salah satu adalah menjadikan keluarga kita Gereja Rumah Tangga yang bertumbuh dalam Sabda Tuhan. Tuhan sudah menyiapkan segalanya, terserah kita untuk menjadi utusan yang baik demi kemuliaan nama-Nya.

(Mazmur 119:29.72.89.101.104.163)
Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.
Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.
Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.
Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.
Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai.

Bacaan Lengkap hari ini:
1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
2 Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
3 kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
4 Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
5 Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.”
6 Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

23 September 2014

Renungan Harian, 23 September 2014 – Peringatan Wajib Santo Padre Pin dari Pietrelcina, Imam

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah (Luk 9:1-6)

Seorang utusan haruslah memiliki sikap ketergantungan total pada Allah yang telah mengutusnya. Ia yang telah mengutus, Ia pula yang akan menyediakan segala kelengkapan yang dibutuhkan. Dengan demikian, dari pihak para utusan, kepercayaan dan kepasrahan pada penyelenggaraan ilahi merupakan suatu tuntutan mutlak yang harus diperhatikan. Tugas perutusan kita salah satu adalah menjadikan keluarga kita Gereja Rumah Tangga yang bertumbuh dalam Sabda Tuhan. Tuhan sudah menyiapkan segalanya, terserah kita untuk menjadi utusan yang baik demi kemuliaan nama-Nya.

Mazmur 119:29.72.89.101.104.163
Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.
Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.
Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.
Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.
Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai.

Bacaan Lengkap hari ini:
1 Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit.
2  Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
3  kata-Nya kepada mereka: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.
4  Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ.
5  Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.”
6  Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat.

22 September 2014

Renungan Harian, 22 September 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur (Luk 8:16-18)

Sebagai orang Kristiani kita harus berani dan aktif untuk memancarkan cahaya bagi setiap orang disekeliling kita. Dunia kita saat ini, sangat membutuhkan cahaya-cahaya yang sungguh bisa menerangi kehidupan. Karena kegelapan hati sudah semakin meluas. Tindak kejahatan terus meningkat, kekerasan semakin sering terjadi dan kelompok-kelompok yang memecah belah persatuan semakin merajalela. Beranikah kita sebagai orang Kristiani memancarkan cahaya bagi orang disekitar kita dan membutuhkan bantuan kita? Inilah tugas perutusan kita.

(Mazmur 15:2-3ab.3cd-4ab.5)
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya
dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN;
yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Bacaan Lengkap hari ini:
16  “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.
17  Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.
18  Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress