Renungan Harian

29 December 2011

Renungan Harian, 29 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan (Luk 2:22-35)

Inti dari Injil ini adalah “PENYERAHAN”. Yesus diserahkan kepada Tuhan dan Simeon juga menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Keluarga Nazareth yang sederhana tahu menyerahkan segala dharma bakti dan iman mereka kepada Allah. Dan Simeon orang tua yang menatang bayi Yesus, juga menyerahkan kembali semuanya, termasuk hidupnya, kepada Allah. Ada saat kita harus menyerahkan diri untuk memulai hidup baru, tetapi juga ada saat kita harus menyerahkan diri untuk menyiapkan saat kita harus selesai dari kehidupan kita. Mampukah kita seperti Simeon yang berkata :”biarlah hambamu pergi dalam damai”?

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Mzm 96:2

25 December 2011

Renungan Harian, 25 Desember 2011 – Hari Raya Natal

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Lalu mereka cepat cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. (Luk 2:15-20)

Selamat Natal, Damai Tuhan beserta kita semua. Natal adalah hari yang membahagiakan karena hari ini seorang Juruselamat telah lahir bagi kita. Seperti para gembala menjumpai bayi Yesus dan kembali sambil memuji dan memuliakan Allah, demikian hendaknya kita. Perjumpaan kita dengan Yesus dalam iman harus membangkitkan hati kita untuk memuji dan memuliakan Allah.
 

Adeste fideles,
Laeti triumphantes;
Venite, venite in Bethlehem;
Natum videte,
Regem Angelorum

Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, di hadapan TUHAN, sebab Ia datang (Mzm 96: 11,13a)

24 December 2011

Renungan Harian, 24 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya” (Luk 1:67-69)

Dari tidak mengerti dengan rencana Allah, Zakharia menjadi memahami rencana Allah dalam kerangka penyelamatan manusia. Allah juga menyiapkan kerangka dari tujuan hidup setiap insan, yaitu beribadah kepada-Nya.  Beribadah yang benar adalah menyerahkan diri kepada Allah. Siap mengikuti dan tunduk menyerah pada rencana Allah untuk kita masing masing. Ada banyak kesulitan yang menghalangi untuk penyerahan diri secara total kepada Allah, ketakutan, keangkuhan dan rasa bimbang. Kita harus mampu mengalahkan semuanya untuk menerima kelepasan dari Allah.

Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. (Mzm 89:2)

23 December 2011

Renungan Harian, 23 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Lahirnya Yohanes membuat banyak orang takjub, ibunya sudah sangat tua, ayahnya bisu saat ia dalam kandungan. Tidak heran orang bertanya tanya : “Jadi apakah anak ini nantinya?” Banyak orang bangga memakai nama Yohanes. Mereka ingin berkarya seperti Yohanes, menjadi pembawa kabar sukacita bagi yang berduka. Menjadi perata jalan yang bergelombang. Namun bukan hanya bagi mereka yang bernama Yohanes, kita semua juga siap berkarya. Kita harus selalu siap dan berani meluruskan jalan bagi kedatangan Tuhan.

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. (Mzm 25:5)

22 December 2011

Renungan Harian, 22 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

”karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.” (Luk 1:46-56)

Seluruh hidup kita adalah pengalaman akan Allah. Dalam suka dan duka, Dia hadir dan melakukan karya karya besar. Memang sulit untuk mampu melihat Allah dalam pengalaman pengalaman buruk kita. Namun yakinlah semuanya akan indah pada waktu-Nya. Tuhan sedang merenda, tapi kita hanya melihat bagian baliknya yang penuh benang ruwet. Ketika kita melihat bidang atasnya, tampaklah keindahannya. Karena itu jangan pernah lupa untuk bersyukur pada-Nya.

Hatiku bersukaria karena TUHAN, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh TUHAN; mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita karena pertolongan-Mu. (1 Sam 2:1)

21 December 2011

Renungan Harian, 21 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.” (Luk 1:39-45)

Kunjungan Maria ke rumah Elisabet bermakna luar biasa.  Elisabet dipenuhi Roh Kudus membuatnya menyebut Maria sebagai Bunda Tuhan. Maria tidak banyak berbicara, pribadi dan martabatnya yang berbicara, membuat Elisabet kagum. Banyak diantara kita yang tidak mempunyai karunia untuk mewartakan kabar sukacita dengan kata kata. Namun, kita bisa mewartakan Kristus lewat sikap hidup dan tingkah laku, sekalipun tidak ada satu kalimatpun tentang Kristus yang kita ucapkan. Itulah evangelisasi yang sejati.

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. (Mzm 33:1)

20 December 2011

Renungan Harian, 20 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Sangat menyenangkan bila setiap orang memiliki sikap seperti Maria. “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” Setiap orang selalu bersedia dipakai oleh Allah untuk kebaikan manusia dan kemuliaan Allah. Semakin banyak orang bersedia, semakin banyak pula orang yang mengalami keselamatan Tuhan. Marilah kita mohon agar kita pantas untuk menjadi alat Tuhan. Kita menjadi tangan-Nya, untuk menolong orang banyak; kita menjadi mulut-Nya untuk mewartakan segala yang baik.

Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. (Mzm 24:1)

19 December 2011

Renungan Harian, 19 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.” (Luk 1:5-25)

Kemarin Maria yang bertanya dengan polos kepada Gabriel, hari ini Zakharia bertanya kepada Gabriel juga. Namun kali ini Allah menilai Zakharia tidak mempercayai firman-Nya, maka Zakharia dihukum menjadi bisu sampai lahirnya Yohanes, anaknya. Seperti Zakharia, kita tidak mampu memahami sepenuhnya pikiran dan rencana Tuhan. Kita seringkali ingin mengatur Tuhan sesuai dengan pikiran kita, dan bukan menyerahkan diri kita untuk diatur-Nya. Serahkan semuanya dan biarkan Dia yang atur hidup kita.

Mulutku penuh dengan puji-pujian kepada-Mu, dengan penghormatan kepada-Mu sepanjang hari. (Mzm 71:8)

18 December 2011

Renungan Harian, 18 Desember 2011 – Minggu Advent Ke-empat

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1:26-38)

Pertanyaan Maria kepada Malaikat Gabriel ini bukan menguji sang Malaikat, tetapi pertanyaan polos seorang remaja yang tidak mengerti.  Dijaman moderen yang serba instant dan tergesa gesa, banyak anak dari kecil sudah diajar nilai nilai duniawi yang jauh dari kepolosan dan ketulusan hati, semuanya hanya diukur dari kebutuhan. Kiranya kepolosan Maria dalam bertanya dapat menjadi contoh dan inspirasi kita untuk tetap memilih nilai kesederhanaan. karena hanya kesederhanaan batin dan sikaplah yang mendapat tempat dihati Allah.

Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. (Mzm 89:2)

15 December 2011

Renungan Harian, 15 Desember 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes (Luk 7:24-30)

Biasanya kita sulit untuk mengakui kelebihan orang lain, apalagi mau membanggakannya. Sebenarnya memuji kehebatan orang lain, tidak berarti merendahkan diri kita sendiri. Justru kemampuan menghargai orang lain dengan tulus, akan membuat harkat diri kita makin bernilai. Yesus dengan spontan memuji Yohanes didepan orang banyak yang mengagumi Dia, tanpa takut kehilangan pamor. Teladanilah Dia !

Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. (Mzm 30:1)

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress