Renungan Harian

24 September 2011

Renungan Harian, 24 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45)

Banyak orang takut bertanya saat menghadiri Pendalaman Iman atau diskusi. Padahal mereka tidak mengerti. Alasannya bisa karena malu, nanti dianggap bodoh. Dalam hal ini kita perlu belajar rendah hati. Ada juga yang tidak mau bertanya, karena sebenarnya mereka takut bahwa jawabannya akan membuat mereka tersadar dari mimpi dan khayalan indah yang ada dalam pikirannya. Dalam hal ini kita harus berani mengambil resiko dan menyelesaikannya bersama Allah dengan segala konsekuensinya.

Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! (Yer 31:10)

23 September 2011

Renungan Harian, 23 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” (Luk 9:18-22)

Seperti Petrus, kita semua telah mengakui Yesus sebagai Juruselamat (Mesias). Namun, mungkin proses pembuktiannya masih menjadi masalah, karena pengakuan itu bukan hanya dengan mulut tetapi terlebih dengan hati. Pengakuan dari hati itu adalah anugerah “dari Tuhan”. Pengenalan akan Yesus tidak sekedar pengetahuan tetapi harus sampai mencintai Dia dengan segenap hati. Kita belum sampai pada ujian iman sejati, “pejah gesang nderek Gusti” (mati hidup ikut Yesus). Tapi kita harus siap siaga berjaga saat batu ujian menimpa kita.

Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (Mzm 42:12)

22 September 2011

Renungan Harian, 22 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal hal demikian?” (Luk 9:7-9)

Herodes hanya berhasil membungkam Yohanes dengan membunuhnya, namun tidak bisa membungkam kebenaran. Kebenaran yang diungkapkan oleh Yohanes, kembali muncul melalui Yesus. Sampai kapanpun kebenaran tidak akan lenyap. Satu satunya cara untuk bisa menghadapi kebenaran adalah dengan membuka hati terhadap kebenaran. Artinya, kita perlu bersahabat dengan kebenaran dan hidup dalam kebenaran itu. Jika kita tidak mau bersahabat dengan kebenaran, maka kita akan selalu terusik, dan pada saatnya kita akan digilas oleh kebenaran.

Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. (Mzm 149:4)

20 September 2011

Renungan Harian, 20 September 2011 – Peringatan St. Paulus Chong dan St. Andreas Kim

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21)

Ingat Nazaruddin yang menyeleksi tamu tamu yang boleh mengunjungi dia di penjara? Ternyata Yesus juga menyeleksi tamu tamuNya, namun Yesus menyeleksi bukan dari kepentingan pribadi-Nya seperti Nazaruddin, tetapi Ia menyeleksi berdasar seberapa dalam kita menghayati dan mendengarkan firman Allah. Seperti para martir dari Korea yang kita peringati hari ini, St. Andreas Kim,dan St. Paulus Chong adalah tamu sejati Tuhan. Mereka mengimani Yesus sampai mati. Mereka memegang visa untuk masuk Kerajaan Surga.

Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.” (Mzm 122:1)

19 September 2011

Renungan Harian, 19 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.”(Luk 8:16-18)

Cahaya pelita itu seperti kabar gembira tentang keselamatan. Kegembiraannya akan memenuhi semua orang yang melihat cahayanya, serta juga memberi kebahagiaan kepada yang mengabarkan. Jadi menaruh pelita diatas kaki dian, atau memberi kesempatan orang lain menikmati cahaya pelita bukan hanya perintah dari Allah, tetapi juga memberikan kebahagiaan dan terang bagi yang mendengarnya. Gunakan talenta kita untuk menyebarkan cahaya.

TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. (Mzm 126:3)

17 September 2011

Renungan Harian, 17 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

“Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya.” (Luk 8:4-15)

Persaudaraan adalah benih Kerajaan Allah yang ditaburkan dalam diri manusia. Benih yang membuat manusia rindu untuk senantiasa hidup bersama dengan yang lain dan saling berbagi. Hari ini kita mendengar Yesus bercerita tentang menabur benih ditempat yang berbeda beda. Benih Kerajaan Allah tentulah baik. Tetapi, lahan untuk benih tersebut yang tidak selalu mendukung. Itulah hati kita semua. Apakah hati kita seperti lahan yang ada ditepi jalan? Atau lahan berbatu atau lahan yang penuh semak duri? Kita harus berani melihat dengan jujur lahan seperti apakah kita ini sebenarnya. Untuk benih yang baik, selayaknya kita sediakan lahan yang baik juga.

Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! (Mzm 100:2)

16 September 2011

Renungan Harian, 16 September 2011 – Peringatan Wajib St. Siprianus dan St. Kornelis

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disbt Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. (Luk 8:1-3) Dari jaman awal Gereja, para wanita banyak berperan aktif membantu karya pewartaan, juga dalam karya sosial. Kekayaan yang mereka miliki, mereka manfaatkan demi perluasan Kerajaan Allah di dunia. Kita bersyukur kepada ibu ibu di tiap paroki dan lingkungan yang melayani di balik layar, sering tersembunyi. Bapa melihat yang tersembunyi dan memberkati.

Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya Mzm 49:7

13 September 2011

Renungan Harian, 13 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!” (Luk 7:11-17)

Kerahiman dan kemurahan hati Yesus sungguh luar biasa. Dia menyelamatkan janda itu dari keterpurukan karena kehilangan anaknya. Dalam keseharian kita, Yesus juga selalu tergerak hati-Nya melihat kita semua. Derita dan beban yang kita pikul, semuanya membuat Dia berbelas kasihan. Dia peduli! Dia mau berbuat sesuatu untuk kita. Percayalah bahwa Ia pasti akan berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah kita.

Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. (Mzm 101:2)

12 September 2011

Renungan Harian, 12 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” (Luk 7:1-10)

Hari ini kita melihat betapa Yesus mengagumi iman seorang perwira Romawi yang dikatakan tidak pernah ditemui-Nya diantara org Israel. Kitapun sering mengaku “orang beriman” , bangga telah dibaptis dan menjadi milik Yesus. Namun apakah keyakinan kita akan iman sudah tulus, mendalam dan jujur kepada Tuhan? Yesus mencontohkan si perwira Romawi yang kafir, namun begitu yakin dan percaya bahwa hanya dengan bersabda saja, maka pelayannya akan dapat disembuhkan. Itulah iman yang tulus, jujur dan mendalam.

Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. (Mzm 28:6)

10 September 2011

Renungan Harian, 10 September 2011

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 06:00

“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Luk 6:43-49)

Apa selama ini kita sudah melakukan apa yang dikatakan Tuhan sehingga layak berseru kepada-Nya : Tuhan, Tuhan ? Juga layak untuk beribadat? Ataukah kita ini orang munafik yang mendengar perkataan Tuhan, tetapi tidak melakukannya, sama seperti orang yang mendirikan rumah diatas tanah tanpa pondasi? Mari kita renungkan, apakah bangunan hidup kita dibangun atas pondasi yang kokoh yakni pada Sabda Tuhan yang selalu kita dengar?

Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. (Mzm 113:2)

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress