Renungan Harian

6 March 2014

Renungan Harian, 6 Maret 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? (Luk 9:22-25)

Walaupun cara hidup mengikuti Yesus tidak selalu mudah, dengan hidup menyangkal diri, memanggul salib dan mengikuti-Nya, tetapi akan membawa kepada kehidupan. Tuhan memberi kita pilihan bebas, tetapi sebenarnya pilihan yang tepat adalah kehidupan dan berkat. Bukan kehidupan dalam kemewahan serta ketamakan. Jangan hanya berkutat memenuhi kebutuhan yang tak kunjung habis, tetapi kita juga berusaha menumbuhkan iman dan kepercayaan diri. Agar makin mencintai kehidupan serta takut akan Tuhan, bukan takut pada penderitaan.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, (Mzm 1:1)

Bacaan Lengkap hari ini :

22  Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”
23  Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
24  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.
25  Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?

2 February 2014

Renungan Harian, 2 Februari 2014 – Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.  (Luk 2:22-40)

Yesus menjadi besar dan kuat karena orang tua-Nya mematuhi semua perintah Tuhan berkaitan dengan Putra-Nya. Dalam hidup dibutuhkan sikap hati seperti Bunda Maria dan St. Yusuf, yang siap dan rela mendengarkan warta tentang Tuhan, sehingga bisa menangkap kehadiran Allah dalam hidup kesehariannya. Untuk itu, maka keterbukaan hati seperti Maria dan Yusuf dan kesabaran menanti seperti Simeon dan Hana harus kita tumbuhkan. Hanya dengan begitu, maka tuntutan ekonomi, kebutuhan materi dan keharusan mencari nafkah tidak mengalahkan iman kita pada Allah.

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (Mzm 24:7)

Bacaan Lengkap hari ini :

22  Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
23  seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah,”
24  dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
26  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
27  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
28  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
29  ”Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
30  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
31  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
32  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
33  Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
34  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
35   —  dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri  — , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”
36  Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,
37  dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.
38  Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.
39  Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
40  Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

10 January 2014

Renungan Harian, 10 Januari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Aku mau, jadilah engkau tahir.” (Luk 5:12-16)

Bapa kita di surga sungguh amat baik. Sebagaimana jawaban Yesus kepada penderita kusta itu, “Ya, Aku mau”, demikianlah jawaban Bapa menanggapi permintaan kita. Ia ingin anak-anak-Nya, keliarga-Nya, mendapatkan yang terbaik. Gambaran keluarga ideal adalah setiap anggota keluarga mau berusaha saling memenuhi harapan anggota masing-masing, tanpa perlu memikirkan kepentingannya lebih dulu. Memang membutuhkan pengorbanan. Bukankah Allah tetap mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan kita, sekalipun kita jarang bersyukur dan berterima kasih kepada Dia?

Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! (Mzm 147:12)

Bacaan Lengkap hari ini :

12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
13  Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
14  Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
15  Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.
16  Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

1 January 2014

Renungan Harian, 1 Januari 2014 — Tahun Baru 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Tetapi Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (Luk 2:16-21)

Bunda Maria melihat segala peristiwa dengan mata iman. Kita dapat menyaksikan meskipun hidup Maria tidak mudah namun dia tetap tegar, kuat dan mampu tetap lemah lembut dan sabar berjalan dalam waktu Tuhan sampai akhir hidupnya. Kehidupan dalam keluarga kita saat ini, apapun keadaannya, dingin atau dalam situasi kritis sekalipun, jika suami istri berani hidup di dalam iman seperti Bunda Maria, maka keharmonisan keluarga segera terasa. Hidup dalam iman salah satunya saling menjadikan pasangannya sebagai yang pertama untuk diperhatikan dan dibahagiakan. Selamat Tahun Baru 2014. Tuhan memberkati.

Allah telah memberkati kita; semoga Ia dihormati di seluruh dunia! (Mzm 67:8)

Bacaan lengkap hari ini :

16  Mereka segera pergi, lalu menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi itu yang sedang berbaring di dalam palung.
17  Ketika para gembala melihat bayi itu, mereka menceritakan apa yang dikatakan para malaikat tentang bayi itu.
18  Dan semua orang heran mendengar cerita para gembala itu.
19  Tetapi Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20  Gembala-gembala itu kembali ke padang rumput sambil memuji dan memuliakan Allah, karena semua yang telah mereka dengar dan lihat, tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat.
21 Sesudah berumur delapan hari, anak itu disunat. Dan mereka menamakan-Nya Yesus, nama yang diberikan malaikat kepada-Nya sebelum Ia dikandung ibu-Nya.†

30 December 2013

Renungan Harian, 30 Desember 2013 – Hari Keenam dalam Oktaf Natal

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Ada pula seorang nabi wanita yang sudah tua sekali. Namanya Hana, anak Fanuel, dari suku Asyer. (Luk 2:36-40)

Hana yang setiap hari berdoa di Bait Allah memang menantikan kedatangan sang Mesias, dan ketika saat itu tiba, Hana merayakan kelahiran Sang Al-Masehi dengan ucapan syukur dan nubuat. Nubuat Hana adalah totalitas keheningan yang amat kuat dan hikmat. lantunan kiding syukur atas penciptaan semesta raya yang keluar dari kandungan Maria, bunda dari segala yang hidup. Dengan menghayati pujian dalam hati Hana, kita diajak belajar untuk memahami “bahasa hati” seorang wanita, yang justru tak terungkap lewat kata-kata.

Bergembiralah, hai langit dan bumi! Bergemuruhlah hai laut dan semua isinya! (Mzm 96:11)

Bacaan Lengkap hari ini :

36  Ada pula seorang nabi wanita yang sudah tua sekali. Namanya Hana, anak Fanuel, dari suku Asyer. Sesudah tujuh tahun kawin,
37  Hana menjadi janda, dan sekarang berumur delapan puluh empat tahun.* Tidak pernah ia meninggalkan Rumah Tuhan. Siang malam ia berbakti di situ kepada Allah dengan berdoa dan berpuasa.
38  Tepat pada waktu itu juga ia datang, lalu memuji Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan saatnya Allah memerdekakan Yerusalem.
39  Setelah Yusuf dan Maria melakukan semua yang diwajibkan Hukum Tuhan, mereka pulang ke Nazaret di Galilea.†
40  Anak itu bertambah besar dan kuat. Ia bijaksana sekali dan sangat dikasihi oleh Allah.

24 December 2013

Renungan Harian, 24 Desember 2013

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya (Luk 1:67-69)

Kiranya getar kehadiran Sang Juruselamat sejati sudah dinubuatkan oleh Zakharia. Rahmat kelahiran Mesias adalah sebuah hadiah pengampunan bagi siapa saja! Pengampunan disini adalah rahmat Tuhan, jadi bukan sekedar pengurangan hukuman atau bebas bersyarat. Tidak ada satu pun yang dapat membebaskan kita dari berbagai akibat atas dosa-dosa kita, kecuali Allah yang penuh cinta serta kelembutan. Mari kita sambut Sang Mesias dengan berani meminta ampun dan mengampuni satu sama lain. Ampun itu rahmat yang menyembuhkan.

Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Mzm 89:2

Bacaan Lengkap hari ini :

67 ¶  Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:
68  ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,
69  Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,
70   —  seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus  — 
71  untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,
72  untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,
73  yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,
74  supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,
75  dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.
76  Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,
77  untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,
78  oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,
79  untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

23 December 2013

Renungan Harian, 23 Desember 2013

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” (Luk 1:57-66)

Yohanes Pembaptis memenuhi panggilan sebagai nabi sampai akhir hidupnya. Dia menghayati panggilannya dengan setia dan penuh tanggung jawab. Baginya, kematian justru menyempurnakan panggilan hidupnya sebagai nabi. Karena itu, kita hendaknya juga tidak takut mati untuk mewujudkan panggilan hidup sebagai Kristiani. Kehadiran kita didunia akan bermakna dan membawa sukacita bagi sesama, bila menghidupi apa yang dihayati oleh Yohanes Pembaptis. Kita menjadi orang yang bertanggung jawab dan setia terhadap tugas dan panggilan Tuhan.

Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; (Mzm 25:1)

57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.
58  Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.
59  Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,
60  tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.”
61  Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.”
62  Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.
63  Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: “Namanya adalah Yohanes.” Dan merekapun heran semuanya.
64  Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.
65  Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.
66  Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

21 December 2013

Renungan Harian, 21 Desember 2013

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:39-45)

Jaminan Allah selalu menjadi andalan dan pegangan tak tergoyahkan bagi orang terpilih. Tidak semuanya terang benderang. Tapi jaminan Tuhan adalah daya ekstra untuk berani berkata: “terjadilah kehendak-Mu” Kita dipilih Tuhan untuk melaksanakan tugas pelayanan sesuai kemampuan kita. Apapun tugas yang dipercayakan, itu adalah pilihan Allah. Kita dapat belajar dari Maria bagaimana menjawab panggilan dan tugas dari Tuhan. Pilihan Allah adalah pemberian. Pemberian adalah tugas. Kita maju bersama Dia.

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. (Mzm 32:1)

Bacaan Lengkap hari ini :

39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.
40  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.
41  Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,
42  lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.
43  Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
44  Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
45  Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.

20 December 2013

Renungan Harian, 20 Desember 2013

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu. (Luk 1:26-38)

Perasaan Maria yang rela menerima derita untuk keselamatan sesama, mestinya menjadi panggilan kita. Pelayanan dan cinta kasih kita mestinya terarah pada sesama. Jangan kita malah terpengaruh pada kehidupan dunia, yang hanya mengarahkan tindakan dan perbuatan kita pada kepentingan diri sendiri. Mari berkorban untuk orang lain, agar kehidupan kekal yang kita nantikan dapat kita rasakan bersama dengan semua orang.

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (Mzm 24:7)

Bacaan Lengkap hari ini :

26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
27  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
28  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
29  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
30  Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
31  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
34  Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”
35  Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
36  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
38  Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

19 December 2013

Renungan Harian, 19 Desember 2013

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan” (Luk 1:5-25)

Anak itu anugerah atau karya dari Tuhan. Betapa tidak! Keluarga Zakharia dan Elisabet sudah lanjut usia. Ditambah lagi Elisabet itu mandul. Dalam pandangan manusia tampaknya mustahil. Tetapi bagi Allah tak ada kata mustahil. Sebagai orang beriman kita perlu belajar percaya akan rencana dan karya Tuhan dalam diri pribadi dan keluarga kita. Pasutri Zakharia dan Elisabet menjadi sarana untuk menampakkan karya agung Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan Allah mempunyai rencana indah pada kita semua.

mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya. (Mzm 71:15)

Bacaan Lengkap hari ini :

5 Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.
6  Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.
7  Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.
8  Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.
9  Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.
10  Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.
11  Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.
12  Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.
13  Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.
14  Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.
15  Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;
16  ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,
17  dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”
18  Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.”
19  Jawab malaikat itu kepadanya: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu.
20  Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya.”
21  Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci.
22  Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.
23  Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah.
24  Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:
25  ”Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress