Renungan Harian

24 February 2014

Renungan Harian, 24 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu?” (Mrk 9:14-29)

Tidak percaya kepada Yesus identik dengan tidak mengimani Yesus dan identik dengan tidak mengandalkan Yesus. Itulah yang terjadi dengan para rasul saat mereka tidak mampu mengusir roh jahat. Injil hari ini menjadikan peringatan bagi kita untuk terus menerus mengandalkan Allah. Dalam doalah, keterbatasan manusia dilengkapi oleh ketak terbatasan Allah. Doa seharusnya dilandaskan pada sikap kepercayaan bahwa “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Allah”. Itulah yang harus kita lakukan.

Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. (Mzm 19:8)

Bacaan Lengkap hari ini :

14 Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang mempersoalkan sesuatu dengan mereka.
15  Pada waktu orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia.
16  Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?”
17  Kata seorang dari orang banyak itu: “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia.
18  Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.”
19  Maka kata Yesus kepada mereka: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”
20  Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa.
21  Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya: “Sejak masa kecilnya.
22  Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.”
23  Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
24  Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”
25  Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kata-Nya: “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!”
26  Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: “Ia sudah mati.”
27  Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia bangkit sendiri.
28  Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”
29  Jawab-Nya kepada mereka: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”

21 February 2014

Renungan Harian, 21 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Mrk 8:34-9:1)

Mengikut Aku berarti kita berani menjalankan ketaatan. Taat total pada kehendak Allah. Mengikut Aku berarti berani mengambil resiko untuk Kristus. Ketaatan adalah mutlak bagi kita yang mengaku diri menjadi pengikut Kristus, sehingga dengan berani mengambil risiko untuk Kristus. Seperti yang dikatakan oleh St. Louis Mariae de Monfort : Jika kamu tidak mengambil resiko untuk Allah kamu tidak melakukan apapun untuk-Nya!  Dalam kenyataan, mengambil resiko adalah sesuatu yang langka.

Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. (Mzm 112:1)

Bacaan Lengkap hari ini :

34  Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
35  Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
36  Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
37  Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
38  Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”
1 Kata-Nya lagi kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.”

20 February 2014

Renungan Harian, 20 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan (Mrk 8:27-33)

Apakah kita pernah menderita seperti Yesus? Difitnah, diolok-olok, diludahi? Hadapi setiap bentuk penderitaan, apapun itu, dengan iman; sebab, ditegaskan oleh Rasul Petrus dan Barnabas bahwa “untuk masuk kedalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara”. St. Teresia dari Lisieux pun menegaskan, “Untuk menjadi seorang kudus, orang harus banyak menderita!” Kita bukan berharap menjadi kudus, tetapi dengan menghayati penderitaan sebagai bagian dari iman, maka kita bisa mendapatkan kebahagiaan Kerajaan Allah.

Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. (Mzm 34:7)

Bacaan Lengkap hari ini :

27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Kata orang, siapakah Aku ini?”
28  Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.”
29  Ia bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Petrus: “Engkau adalah Mesias!”
30  Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapapun tentang Dia.
31  Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
32  Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
33  Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

18 February 2014

Renungan Harian, 18 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” (Mrk 8:14-21)

Ragi adalah bahan untuk membuat sesuatu dengan cara fermentasi. Sedikit ragi akan mempengaruhi benda yang diberi dan berubah dengan cepat.  Ragi Farisi adalah pengaruh kemunafikan sedangkan ragi Herodes adalah pengaruh keduniawian.  Hikmat yang dari atas menuntun kita pada pengalaman iman yang meneguhkan, hati yang tulus ikhlas dan kehidupan yang lebih jujur. Sehingga kita dapat terhindar dari pengaruh ragi Farisi dan ragi Herodes yang dapat merubah iman kita.

Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, (Mzm 94:12)

Bacaan Lengkap hari ini :

14  Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.
15  Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.
16  Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.”
17  Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?
18  Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,
19  pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.”
20  “Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.”
21  Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

17 February 2014

Renungan Harian, 17 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Yesus mengeluh lalu menjawab, “Apa sebab orang-orang zaman ini minta Aku membuat keajaiban? Tidak! Aku tidak akan memberikan tanda semacam itu kepada mereka!” (Mrk 8:11-13)

Kadar iman manusia tidak selalu sama. Untuk dapat beriman, ada yang butuh banyak tanda, ada yang sedikit, ada yang tidak butuh apa-apa. Bagi banyak orang, Tuhan telah menganugerahkan banyak tanda melalui manusia itu sendiri dan peristiwa-peristiwa di dalam kehidupannya. Maka, orang juga tidak boleh menggantungkan imannya pada tanda-tanda ajaib dan peristiwa lahiriah yang sensasional semata. Mari kita percaya tanpa harus melihat.

Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku. (Mzm 119:77)

Bacaan Lengkap hari ini :

11  Beberapa orang Farisi datang kepada Yesus, dan mulai berdebat dengan Dia untuk menjebak-Nya. Mereka minta Yesus membuat keajaiban sebagai tanda bahwa Ia datang dari Allah.†
12  Yesus mengeluh lalu menjawab, “Apa sebab orang-orang zaman ini minta Aku membuat keajaiban? Tidak! Aku tidak akan memberikan tanda semacam itu kepada mereka!”
13  Lalu Yesus meninggalkan mereka, dan masuk ke dalam perahu; kemudian berangkat ke seberang danau itu.

15 February 2014

Renungan Harian, 15 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini.” (Mrk 8:1-10)

Sudah sering perikop tentang Yesus memberi makan kepada ribuan orang, tetapi tetap saja menjadi bahan pemikiran yang menarik. Kali ini Kita melihat dari seberapa keinginan kita untuk memahami situasi sesama yang menderita, bukan berarti kita meremehkan peran hati. Perasaan yang peka bagaikan pintu yang sedia terbuka untuk mencintai sesama. Tuhan memberi kita hati agar kita punya spontanitas untuk menaruh belas kasih. Kiranya belas kasih Yesus yang keluar dari hati-Nya yang peka, akan memberi kebijaksanaan pada kita untuk meneladaninya.

Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu, (Mzm 106:4)

Bacaan Lengkap hari ini :

1 Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:
2  “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.
3  Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.”
4  Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?”
5  Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.”
6  Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.
7  Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.
8  Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.
9  Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.
10 Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

14 February 2014

Renungan Harian, 14 Februari 2014 – Peringatan Wajib Santo Sirilius, Pertapa dan Metodius, Uskup

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. (Mrk 7:31-37)

Pesan Yesus untuk tidak menceritakan kepada siapapun juga, artinya sekalipun sudah fasih berbicara, janganlah banyak omong, apalagi bergunjing tanpa fakta. Manusia belajar bicara selama 2 tahun hidupnya, tetapi belajar mendengar selama puluhan tahun. St. Sirilus dan St. Metodius adalah dua bersaudara yang demi cintanya kepada Yesus telah memakai telinga dan lidahnya untuk mengabarkan Injil pada bangsa Slavia. Kita juga akan nyaman bilamana dapat memakai lidah kita untuk bicara yang perlu meski dialam bebas bicara seperti saat ini.

Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu (Mzm 81:9)

Bacaan Lengkap hari ini :

31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis.
32  Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.
33  Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.
34  Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata!,” artinya: Terbukalah!
35  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.
36  Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya.
37  Mereka takjub dan tercengang dan berkata: “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

13 February 2014

Renungan Harian, 13 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. (Mrk 7:24-30)

Betapa direndahkannya si wanita oleh Yesus, dia disamakan dengan anjing. Kekuatan, niat, kemantapan dan harapan akan kesembuhan anaknya telah mendorong keberaniannya untuk melangkah, bahkan membantah ucapan Yesus yang menusuk hati. Akhirnya ia mendapat kelegaan dan bersuka cita karena anaknya sembuh. Kita semua punya beban masalah, beranikah kita mohon bantuan Yesus? Memang kadang terasa berat dan sulit, tetapi kita tetap harus berusaha datang kepada Yesus, agar Dia mendengar keluh kesah dan menghargai niat luhur kita.

Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu, (Mzm 106:4)

Bacaan Lengkap hari ini :

24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.
25  Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.
26  Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27  Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
28  Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
29  Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
30  Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

12 February 2014

Renungan Harian, 12 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat (Mrk 7:14-23)

Agar mampu menangkap apa yang baik dalam diri kita, hati yang jernih, Roh tinggal dalam hati dan membimbing kita, kita perlu meluangkan waktu untuk hati dan pikiran kita. Berpa banyak waktu yang kita gunakan untuk mendengar bisikan Roh Kudus melalui bacaan Injil, doa dan mengikuti perayaan Gerejani? Adakah waktu untuk semua itu? Yesus mengajak kita untuk memperdalam iman kita dengan mencari lebih dalam pengetahuan tentang Dia.

Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; (Mzm 37:30)

Bacaan Lengkap hari ini :

14  Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.
15  Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”
16  (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)
17  Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.
18  Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,
19  karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.
20  Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,
21  sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,
22  perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
23  Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

11 February 2014

Renungan Harian, 11 Februari 2014

Filed under: Renungan Harian — Tags: , — Renungan Harian @ 05:30

“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! (Mrk 7:1-13)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dan bahkan tidak sadar bahwa kita sama dengan orang Farisi dan ahli taurat. Setiap hari Minggu ke Gereja, namun dirumah bertengkar dengan istri, suami, anak dan tetangga. Tidak memperhatikan kesejahteraan pegawai demi kepentingan pribadi; dn banyak kejahatan tersembunyi yang diselubungi dengan kesalehan. Yesus telah mengingatkan kita hari ini untuk tidak mempertahankan kesalehan palsu, melainkan memperjuangkan kejujuran dan kebenaran. Ada ajaran, nasehat, serta teladan Yesus untuk membungkam kemunafikan. Beranikah kita?

Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau (Mzm 84:5)

Bacaan lengkap hari ini :

1 Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.
2  Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.
3  Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;
4  dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.
5  Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”
6  Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
7  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.
8  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”
9  Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.
10  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.
11  Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban  —  yaitu persembahan kepada Allah  — ,
12  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.
13  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

« Newer PostsOlder Posts »

Powered by WordPress